Traveling buat saya bukanlah untuk mencoret nama suatu tempat dalam bucket list saya, dan bukan juga untuk dapat berkata “Been there, done that” dalam suatu percakapan. Apalagi untuk memiliki foto-foto keren untuk lalu dipamerkan di situs media sosial.
Buat saya, traveling adalah perjalanan kembali ke rumah batin saya. Pulang kembali ke diri sendiri justru ketika saya jauh secara fisik dari rumah dalam arti sebenarnya. Justru dalam perjalananlah saya benar-benar belajar mengenai diri sendiri. Justru dalam perjalananlah saya merasa sangat dekat dengan orang-orang yang menempati ruang terbesar di hati: keluarga saya.
Absence does indeed make the heart grow fonder.
Entah kenapa. Mungkin karena perjalanan menjauhkan saya dari zona nyaman. Mungkin karena saya sering solo traveling sehingga banyak waktu untuk menengok ke dalam diri sendiri. Mungkin karena jarak yang tercipta membuat rumah menjadi kata yang sangat bermakna.
Foto-foto yang saya ambil adalah sekumpulan memorabilia. Agar bila nanti kembali ke tengah kesibukan ibukota, foto-foto itu dapat menjadi pengingat apa yang lebih penting dari sekadar mengejar materi. Bahwa di luar sana ada dunia indah yang menunggu untuk dijelajahi setiap sudutnya untuk menemukan kepingan-kepingan jati diri, di mana manusia tidak perlu banyak hal untuk bahagia
Buat saya, perjalanan bukanlah suatu pelarian. Bagi saya, perjalanan adalah suatu pencarian.