



Insights, Inspirations and Lingering Thoughts





To travel is to take a journey into yourself - Danny KayeKata orang, menulis tentang mendaki gunung itu susah. Jangankan menuliskannya, pada awalnya pun saya tidak begitu paham kenikmatan (yang menyiksa) dari mendaki gunung. Lumpur, basah, becek, lintah, nanjak, susah, lelah. Sudah sampai puncak, lalu turun lagi. Seperti hukuman yang diberikan dewa kepada Sisyphus dalam mitologi Yunani. Buat apa?
# 1. Travel is about moving yourself beyond your own boundaries.
Tidur nyenyak merupakan kemewahan yang tak kunjung datang hingga pagi itu menjelang. Entah bagaimana ketiga teman saya masih pulas walaupun udara di dalam tenda menyesakkan dada. Agar tak mengusik mereka, saya buka pintu tenda perlahan-lahan. Langit masih gelap namun terpaan udara pagi mengundang saya untuk duduk menikmati sepinya awal hari di Pulau Sempu.
Bisa dibilang, ini bagian favorit saya dari setiap perjalanan. Bangun mengejar fajar dan menyaksikan dunia menggeliat dari tidurnya. Mendengarkan burung-burung menyanyikan ode-nya pada matahari yang keluar dari peraduan. Saat itulah, saya merasa dekat dengan Tuhan.
Lama saya bercengkerama dengan Tuhan pagi itu. Namun, sesuatu mengganggu perenungan saya. Jauh dari dalam hutan, bunyi tetabuhan gendang bertalu-talu. Nalar saya menyangkal, tidak mungkin! Setahu saya hanya kami berempat yang berkemah di pulau Sempu saat itu. Hari pun masih terlalu dini untuk pengunjung mulai tiba di pulau Sempu yang tak berpenghuni.
Sekitar lima menit bunyi itu masih terdengar bertalu-talu. Sambil menebak-nebak, saya terus memperhatikan hutan mencari sumber suara. Tiba-tiba sesuatu bergerak di belakang saya. Krosak!
Bunyi langkah kaki di atas pasir.
Ternyata, itu Dani, salah satu teman seperjalanan saya, yang berjalan menuju belakang semak di perbatasan hutan.
“Ngapain, Mbak?” sahutnya kemudian setelah ia menuntaskan panggilan alamnya.
“Nggak bisa tidur lagi, Dan.”
“Udah lama?”
“Yah begitulah. Eh kalian tadi ada yang ngedengerin musik gak sih di dalam tenda?”
“Gak Mbak, HP-nya juga udah pada mati.”
Hmmm… jadi bunyi apa ya tadi? Saya mengurungkan niat untuk mempermasalahkannya lebih jauh. Apalagi ini bukan kejadian mistis pertama yang kami alami di Pulau Sempu ini. Pengalaman tadi malam cukup menggetarkan nyali, yang mengingatkan saya, bahwa manusia itu bukan siapa-siapa di alam liar. Konsekuensi menyatu dengan alam mengharuskan kita melepaskan kungkungan kenyamanan, yang justru memperluas batas-batas baru dalam diri.
—-
Bagi orang lain, makna zona nyaman mungkin seperti taman surgawi. Indah, makmur, dan damai. Bagi saya, kata-kata zona nyaman justru menyerupai labirin dengan dinding semak tinggi. Susah bergerak ke sana kemari karena sulur-sulur daun tumbuh menutup jalur setiap kali saya melangkahkan kaki. Zona nyaman justru membuat saya terkandangi.
Sesaknya zona nyaman inilah yang mendorong keputusan saya untuk mengundurkan diri dari tempat kerja medio September 2013.
I actually loved my work and what I did. It was a demanding, well-paid job and required a lot of traveling (a big plus), but there are so many reasons why I felt that my job did not serve a better purpose longer. Yes, the job took me to places physically and professionally, but not where I want to be emotionally. The decision to resign was long overdue, and for long I have felt that I need to slow down.
Kesempatan datang di pertengahan bulan September itu karena adanya suatu kejadian di kantor yang di luar batas toleransi saya. Dan saya segera putuskan untuk keluar. Keputusan yang susah-susah gampang untuk dibuat, namun begitu saya memberikan one month notice kepada atasan saya, beban berat terlepas dari punggung dan langkah kaki pun semakin ringan. Sampai-sampai teman sekantor saya berujar heran, “Kok sumringah sekali resign dari pekerjaan?”.
Mungkin mereka akan makin garuk-garuk kepala kalau tahu saya belum punya jaring pengaman. Waktu itu saya memang sudah mengirimkan CV saya ke beberapa lowongan pekerjaan, namun belum ada yang pasti. Untunglah saya masih mempunyai cukup tabungan, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan dan menikmati hidup.
Keep calm, quit your job and travel! Slogan yang cocok untuk dijadikan kaus.
Browsing dan pilih-pilih tempat tujuan traveling sudah saya lakukan. Flores dan Labuan Bajo-lah yang menjadi pilihan hati saya waktu itu. The sea, the mountain, the quiet town, and the friendly people. What else can you ask for to go catching life that has escaped you?![1]
“We travel not to escape life, but to prevent life from escaping us” - Anonymous
Namun, Tuhan memutuskan lain. Justru di minggu-minggu terakhir saya di kantor, saya mendapat panggilan dari salah satu kesempatan pekerjaan yang saya incar. Dengan cepat, wawancara pertama dan kedua saya jalani, dan keluarlah hasil keputusan: saya diminta masuk mulai awal November 2013. Tawaran ini menjadi tantangan besar buat saya, tidak saja saya akan bergerak di lingkungan yang berbeda, waktu kerja yang lebih manusiawi, dan dapat memberikan dorongan karier yang besar. Tidak banyak traveling memang, namun saya punya banyak waktu untuk merancang traveling sendiri dengan tujuan murni bersenang-senang.
Sujud syukur saya kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan, namun ini berarti rencana saya resign-travel-enjoy life menjadi kacau balau. Saya hanya mempunyai waktu 2 minggu dari hari terakhir saya di kantor sebelum memulai pekerjaan baru. But on more positive notes, I have two weeks to travel!
Saya memang tidak bisa pergi jauh-jauh dari Jakarta karena ada beberapa hal yang perlu saya urus untuk pekerjaan saya yang baru. Kemana saya bisa pergi, ya? Teringat saya akan ajakan Juli, teman saya di kantor, untuk naik gunung. Memang jodoh di tangan Tuhan, dia memiliki jadwal untuk ke Malang pertengahan Oktober, mendaki gunung Semeru dan kemping di Pulau Sempu. Tawaran yang sangat menarik dan timing yang sangat pas. Count me in!
Segera saya mempersiapkan diri untuk pengalaman backpacker pertama saya. Pinjam peralatan sana-sini, browsing info di banyak blog, hingga tanya-tanya pada kerabat yang banyak pengalaman mendaki gunung dan menjelajah alam.
H-1 hari keberangkatan, peralatan backpacking saya masih berantakan di kamar, termasuk tas backpack dan windbreaker pemberian farewell gift dari teman-teman kantor. Berulang kali saya coba packing, tapi kok ya tidak sreg? Saya memang was-was benar kala itu. Seorang teman lain yang saya ajak juga tiba-tiba mengurungkan diri karena sakit. Apalagi saya akan berangkat dengan orang asing, kecuali Juli. Being a perfectionist, saya merasa persiapan tim keberangkatan kali ini kurang matang. Aduh, saya tidak mau menjadi cerita klasik orang muda penuh kegalauan naik gunung, dan akhirnya pulang dengan tak bernyawa. This trip is not a suicide mission for me.Sumpah, saya masih mencintai hidup!
Namun perasaan saya benar-benar tidak enak kala itu. Apalagi teman saya yang lain, sesama orang Jawa mengingatkan, jangan merambah bahaya bila akan memulai suatu yang baru. Pamali, kata orang Sunda mah. Hampir saya batal ikut, bila tidak ingat perasaan was-was ini hanyalah fear of the unknown. Saya harus berani keluar dari zona nyaman! Jadi saya kesampingkan segala ketakutan saya, tidak lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan keselamatan, serta doa restu dari Ibu di rumah dan Pak De induk semang saya di Jakarta.
Dengan backpack yang akhirnya berhasil dikemas dengan rapih, saya berangkat selepas shalat Jum’at dengan ojek ke Stasiun Senen. Di jalan, mendung menggelayut dan gerimis turun, pertanda lainkah agar tak jadi berangkat? Namun saya sudah mantapkan hati untuk berangkat ke Malang.
I can’t wait for the journey to begin!
***
Turun dari Semeru, saya, Juli, Acep dan Dani, langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Sempu, sebuah pulau kecil di pesisir selatan Malang. Pulau ini hanya selemparan batu dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Sendang Biru. Setelah melapor ke kantor Konservasi Wilayah Pulau Sempu, dengan menyewa kapal nelayan, hanya perlu lima menit untuk mencapai jalur masuk Pulau Sempu di Teluk Semut. Dari sini, perjuangan dimulai untuk tracking mencapai laguna yang menjadikan Pulau Sempu ini terkenal, yaitu Segara Anakan[2].
“Mas, jangan lupa besok jemput lagi ya di sini!”, sahut saya kepada Mas Pendi, pengemudi kapal yang mengantarkan kami ke Teluk Semut. Saya baru saja menyerahkan dua helai uang lima puluh ribuan sebagai ongkos antar jemput.
“Iya, Mbak, nanti telpon aja kalo sudah siap dijemput,” jawabnya sambil mengarahkan kapal kembali ke Sendang Biru.
Acep, pemuda asal Bandung, yang juga didapuk sebagai team leader kami, keluar dari balik bayang-bayang hutan. Sewaktu kami sibuk menurunkan barang bawaan dari kapal, dia mencari orientasi jalur di hutan.
“Yuk, langsung jalan, biar gak kesorean sampai di Segara Anakan. Jalurnya ketemu kok,”ujarnya.
Kami berempat pun lalu jalan beriringan. Acep di depan sebagai penunjuk jalan, lalu disusul Juli, pacar Acep yang juga teman sekantor yang berhasil memanas-manasi saya untuk ikut di dalam perjalanan ngebolang kala itu. Saya di tengah dan Dani, sahabat Acep, menutup rombongan.
Kami menelusuri jalur hutan, sepatu kami lengket dengan tanah merah basah. Kaki melangkah berhati-hati karena akar pohon dan batu karang yang berserakan. Perjalanan semakin menantang, tak jarang kami harus melompati atau merunduk di bawah batang pohon yang jatuh. Angin mendesir kanopi pepohonan yang rapat, tapi lembabnya hutan membuat kami bersimbah peluh.

Beberapa kali kami kehilangan jalur karena tertutup akar pohon. Namun seperti Hans dan Gretel, kami dapat kembali menemukan jalur dengan mengikuti jejak-jejak peradaban, yaitu bungkus permen dan kantung bekas makanan yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tak bertanggung jawab.
Gemerisik daun tertiup angin serta bunyi ranting pohon berkeretak terinjak menemani perjalanan kami. Sayup mayup terdengar suara hewan hutan yang tak tentu rimbanya. Tak banyak kami bicara, hanya ada nyanyian sumbang dari engahan napas kami yang lelah. Dua tiga kali kami berhenti untuk minum dan istirahat sejenak. Sepasang kupu-kupu, kelopak sayapnya putih berbintik hitam, menari di antara daun-daun. Agaknya mereka sedang ingin berteman, dari tadi mereka terus mengikuti. Hal kecil yang indah yang dapat kita temukan di perjalanan, asalkan kita membuka mata.
Traveling is not about arriving to your destination. Stopping to smell the roses will make traveling worthwhile.
Tak terasa hampir 3 jam kami berjalan. Juli, yang kakinya sedikit keseleo, tertinggal di belakang bersama Acep.
“Mbak, kita tunggu mereka dulu,” Dani menghentikan saya sambil meletakkan tas carrier-nya yang berat. Jalur hutan telah berubah menjadi tebing setinggi 2 – 3 meter. Di bawah sana, air laguna jernih biru kehijauan.
“Kayaknya sih udah dekat pantainya. Tuh, kedengeran kan, suara laut?”
Saya memanjangkan telinga. Benar saja, terdengar suara deburan ombak sayup-mayup. Rerimbunan pepohonan masih menghalangi pandangan kami ke arah pantai. Karena penasaran belum nampak juga pantai tempat kami akan berkemah malam itu, saya mencoba menuruni tebing rendah untuk mengintip ke seberang permukaan air.
“Dan, udah kelihatan, Dan! Sumpah, keren abis pantainya,” saya bersorak melihat pantai pasir putih yang di ujung perbukitan karang. Semangat saya tumbuh kembali karena perjalanan sepertinya akan segera berakhir.
“Masih jauh gak?”
“Kayaknya sih dekat. Sepi lagi, gak ada orang!” Saya menatap pantai di seberang laguna.
Begitu saya kembali ke jalur di atas, Juli dan Acep sudah berhasil menyusul. Kami pun melanjutkan perjalanan. Tak sampai setengah jam, setelah lompat dari tebing ke atas pantai, kami akhirnya tiba di tujuan. Dear God, pantai ini memang benar-benar eksotis. Nirwana biru yang sepi, tersembunyi dan damai. Pantai pasir putih di tepian laguna Segara Anakan inilah yang menjadi primadona dari Pulau Sempu. Sekilas, pantai ini seperti pantai-nya Leonardo DiCaprio di film The Beach (2000)[3]. Pantai ini terlindung dari samudera Hindia oleh tebing karang tinggi yang mengelilinginya. Air dari laguna berasal dari hempasan ombak yang masuk melalui karang bolong berdiameter kurang lebih satu meter, volume air masuk sesuai dengan tinggi ombak dan pasang surut kala itu.

Tas-tas kami yang berat kami letakkan bersandar pada dinding karang. Acep dan Dani dengan sigap mengeluarkan rangka tenda untuk dipasang. Juli dan saya mengorek-ngorek isi tas untuk mencari makanan pengisi perut. Tenda berdiri, giliran Acep dan Juli memasak, sementara saya dan Dani merapikan isi tenda agar nyaman. Makan siang sederhana tapi terasa mewah, ditutup dengan potongan mangga muda yang sempat dibeli di Pasar Turen. Sementara kami melahap makan siang, ternyata bersamaan dengan waktu monyet-monyet liar mencari makan. Mereka turun dari hutan di sekeliling pantai, satu, dua, hingga puluhan. Mereka bercengkerama bagai bocah, berlarian di tepi pantai, jejak kakinya berseliweran di pasir.
Asyik menyaksikan ulah para monyet itu, perhatian kami teralihkan. Seekor monyet dengan sigap mengutil penganan cadangan kami dan lari ke atas pohon.
“Nyet, turun nyet! Nanti kamu sakit perut makan itu.”, teriak Dani sambil mengejar si monyet usil. Kakinya (monyet, bukan Dani) yang lincah sigap menaiki pohon ketapang di pinggir hutan.
Kami berusaha untuk membujuk dia (monyet, bukan Dani) turun, namun dia malah naik pohon semakin tinggi, asyik menjilati makanan yang berhasil dia jarah. Segerombolan monyet turut mengorek tumpukan sampah yang ditinggalkan pengunjung lain di pojokan.
Perut kenyang, kami menyimpan sisa makanan di dalam tenda agar tidak dikorek-korek gerombolan monyet liar ini. Sampah kami bungkus rapat untuk kami bawa pulang.
Kami lalu bermain di laguna, walau hanya mencelupkan kaki. Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam air dan tidak adanya air tawar untuk membasuh diri, saya mengurungkan niat snorkeling di sana. Selain itu, di tengah laguna, ada gugusan karang yang konon katanya berdiam ikan karang stone fish yang durinya berbisa. Petugas balai konservasi memang memperingati agar tidak mendekat ke gugusan karang ini. Ditambah lagi, ikan ini sangat pandai mengkamuflasekan dirinya menyerupai batu karang, sehingga alih-alih menapaki batu karang, kita bisa tersengat sirip punggungnya yang berbisa[4].
Menjelang sore, kami naik ke bukit karang di bagian belakang pantai untuk melihat laut lepas. Bukit karang rendah ini berdiri seperti teras teater yang menyajikan pertunjukan gelora alam. Dari atas teras ini kami bisa melihat ganasnya ombak Samudera Hindia yang pecah di dinding karang. Di kejauhan, seonggok batu karang yang besar berdiri menantang laut selatan, dinding kapurnya kuning keemasan diterpa matahari sore.
Mumpung masih ada matahari, dan perut yang kembali keroncongan setelah puas menjelajah Sempu, kami memasak makan malam sederhana.
Selepas makan, matahari sudah bersembunyi di balik bukit. Pendarnya menorehkan lukisan magenta di langit barat. Tak urung saya mengabadikan bayangan bukit berlatar belakang langit senja yang menawan.

“Geser yuk, tendanya ke tengah. Biar nanti malam kita tidak terganggu monyet-monyet itu.” seru Acep, menyela saya yang sibuk foto-foto.
“Memang malem-malem monyetnya gak tidur?” usil saya.
“Yah, kalo monyet doang sih gak papa. Gue pernah kemping di bawah pohon, malem-malem kebangun ada yang nimpa tenda. Ternyata, uler, besar lagi!”
Kami pun kompak merinding dan langsung gotong-royong memindahkan tenda dan seisinya ke tengah pantai yang lebih terbuka. Toh, dinding karang di sekeliling pantai menghambat terpaan angin pada tenda. Dinding karang dan hutan yang mengelilingi Segara Anakan ini membuat cepat datangnya malam.
Pulau Sempu ini adalah kawasan cagar alam, sehingga kami tidak bisa menyalakan api unggun, walaupun dari ranting-ranting mati. Malam menjelang, kami asyik ngobrol ngalor ngidul. Mengenai apa saja. Perjalanan kemarin. Filosofi hidup. Gosip artis terbaru. Masalah kantor, hingga tebak-tebakan.
Badan terasa lelah akibat perjalanan seharian penuh. Saya pun merebahkan diri di atas fly sheet, menatap langit.
Ini mungkin terdengar seperti lagu anak-anak, tapi banyak bintang menghias langit. Tidak adanya sumber cahaya di sekitar pulau Sempu, membuatnya kilau gugusan bintang tersebut tak ada sandingannya. Di atas sana terpampang luas ribuan bintang, semakin terang karena gelapnya malam. Semakin lama kami memandang, semakin banyak kejora yang berkelip, menggoda dengan pendarnya yang temaram.
“Guys….” sahut saya memotong pembicaraan teman-teman yang masih asyik mengobrol.
“Rebahan deh, dan lihat apa yang alam sajikan untuk kita malam ini.” Mereka pun mengikuti saya membaringkan diri.
Dan kami pun terdiam. Tergugu, karena pemandangan langit terasa sakral.
Di sini baru kami sadari makna perjalanan ke pulau tanpa penghuni itu,setelah tiga jam menyusuri jalur di tengah hutan tropis yang lembab, berkutat dengan batu karang tajam berserakan dan akar-akar pohon yang mencuat, jebakan bagi kaki-kaki yang tak sigap dan sandungan bagi mata yang tak awas. Di saat itu, kami merasa peluh keringat dan lelah badan selama ini terbayarkan dengan apa yang tersajikan di meja langit.
Panasnya udara terlupakan, gelapnya malam kami hiraukan. Kami hanya berbaring di sana, menyaksikan lukisan yang Tuhan ciptakan untuk umatnya, namun tak semuanya dapat menyaksikan. Sekali waktu, bintang jatuh melintas, membawa asa kami terbang ke pelukan-Nya.
This is what we are coming for. There, we feel that we are part of the universe. And in this moment, I swear, we are infinite.[5]
Lama kami terlena bermain dengan bintang. Seonggok awan hitam tiba-tiba menutup sebagian cahaya bintang. Angin malam bertiup membuat bulu kuduk meremang. Juli, yang berbaring di sebelah saya, menjadi gelisah. Satu-satunya sumber cahaya buatan kala itu, yaitu headlamp, yang sempat dimatikan tadi sewaktu melihat bintang, segera dinyalakan oleh Dani. Tapi, cahaya headlamp yang terang dan awalnya begitu bersahabat malah membuat suasana tambah mencekam. Kami merasa seperti pemain figuran yang disorot lampu panggung, canggung dan resah.
Untuk menghilangkan rasa resah, kami pun kembali mengobrol. Namun, Acep yang sedang menceritakan pengalamannya naik gunung tiba-tiba terhenti dan ia menoleh ke samping kirinya. Menatap nanar namun masih terdiam. Dengan terbata, dia meneruskan ceritanya naik gunung Papandayan.
Apa mungkin dia melihat sesuatu? Aduh, lebih baik tak usah bertanya.
Badan lelah dan perasaan gundah membuat saya ingin segera beristirahat di dalam tenda. Namun, sendirian di dalam tenda gelap? Hmmm, sebaiknya tidak, batin saya sambil melihat ke dalam tenda yang gulita. Di ujung mata saya, di pinggir tenda, sekelebat bayangan putih yang melintas.
Aduh, emak! Apa pula itu?! Segera saya membalikkan diri menghadap teman-teman saya, diam seribu bahasa menenangkan dada yang berdebar-debar ini.
Baru sekali ini saya merasakan pengalaman yang mistis. Di pulau sepi yang tak berpenghuni, mau lari pun bingung hendak ke mana. Seharusnya kemping di sini justru saat musim liburan ya, agar tidak sepi-sepi amat, batin saya.
Berada di ruang terbuka seperti ini justru membuat saya makin tidak nyaman malam itu. Rasanya tak sabar hingga matahari terbit.
“Kita tidur aja yuk? Besok kan perjalanan masih panjang.” usul saya.
Untunglah, mereka semua seia sekata. Di dalam tenda, kami berbaring mencoba menangkap kantuk. It was perhaps the longest night of my life. Tidur tak bisa benar-benar memejamkan mata. Apalagi Juli berbaring dengan resahnya di samping saya, memutar badannya kiri-kanan. Udara dalam tenda pengap tapi Juli tidak setuju pintu tenda dibuka layer penahan anginnya. Sepertinya ada yang mengganggunya di luar sana. Deburan ombak yang cukup kencang pun membuat imajinasi semakin liar. Tak sabar rasanya hingga pagi hari tiba. Namun satu-satunya jalan agar esok hari lekas tiba adalah mencoba tidur. Baru dini hari ketika udara mendingin, kami baru bisa tidur.
***
Perjalanan kali ini adalah banyak yang pertama buat saya. Pertama kali kemping di pantai terpencil dan pertama kali juga mengalami kejadian mistis. Kejadian, yang konon katanya, akan banyak dihadapi para pencinta alam. Bagi saya, perjalanan ke Pulau Sempu ini mengajarkan bagaimana untuk menghadapi rasa takut. Ada kalanya, rasa takut perlu dihadapi, tapi di saat lain sebaiknya dihiraukan. Bahwa kekhawatiran hanya akan mencegah kita untuk melangkah maju.
Hanya satu rasa takut saya, bahwa di masa tua saya akan memandang masa muda dengan penyesalan. Menyesal tidak melakukan sesuatu karena takut dan khawatir. Menyesal tidak menggapai angan hanya karena sibuk. Satu-satunya cara untuk tumbuh adalah menghadapi ketakutan kita dan bergerak maju.
“I will not die an unlived life. I will not live in fear of falling or catching fire. I choose to inhabit my days, to allow my living to open me, to make me less afraid, more accessible, to loosen my heart until it becomes a wing, a torch, a promise. I choose to risk my significance; to live so that which comes to me as seed goes to the next as blossom and that which comes to me as blossom, goes on as fruit.” — Dawna Markova
[4] Nama Latin ikan ini berasal dari genus Synanceia.Terdaftar sebagai ikan yang paling beracun di dunia, sengatannya bisa berakibat fatal bagi manusia.