I just hate people telling me to pray for Dad everytime I mention how I miss him. It is not that I don’t keep him in my prayer - it’s none of their business anyway - but sometimes I just need to talk about him, about missing him. Sometimes I just need to relive our shared memories. Sometimes I just need a consolation, not an advice. Geez.
Saturday, June 30, 2012
Saturday, June 23, 2012
Wednesday, June 20, 2012
Pelajaran dari Sebuah Buku
Kutipan paragraf dari buku Life Travelernya Windy Ariestanty menggambarkan sangat tepat suasana hati saya:
Saya sakit. I am not fine. I am definitely in pain. Dan ternyata mengakui bahwa saya tak cukup baik-baik saja justru membuat saya merasa lebih baik. It’s not worth waiting for. I have to move on. Sometimes, we have to spend so much time coming up with a conclusion that we already know. Like me.
It was Monday, June 18, 2012 when I decided to consider him just someone I used to know.
Thank you for being nice.
An Imaginary Friend Called Ego
Hari ini saya ikut pelatihan Time Management yang diadakan di kantor. Banyaknya kesempatan mengikuti training memang menjadi salah satu faktor yang membulatkan saya untuk pindah kerja.
Training hari ini berjalan dengan menarik, namun entah kenapa topiknya lebih mengenai self motivation dan bagaimana membuat prioritas dalam hidup dan pekerjaan. Oleh pengajar, kami diberi tugas untuk memikirkan goal-goal apa saja yang kami ingin capai dalam hidup.
Goal yang saya putuskan adalah untuk mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah tahun depan; jadi program manager dalam waktu 3 tahun lagi; dan jangka pendeknya adalah sebelum akhir tahun sudah memiliki SIM A alias bisa nyetir. Kalau disimpulkan memang berarti goal saya masih seputar personal development, pendidikan dan karier. Semuanya mengacu kepada keinginan saya untuk menjadi lebih independen dalam hidup. Mengapa independensi sangat penting bagi saya? Akan saya ceritakan di kesempatan yang lain.
Entah berhubungan atau tidak antara goal hidup saya dan keinginan untuk mandiri itu, yang jelas ada satu goal hidup bagi kaum hawa yang dilewatkan oleh saya, setidaknya untuk tahun ini, yaitu mencari pasangan hidup. Menikah memang bukan target jangka pendek saya. Selama ini, melihat teman-teman lain menikah dan berkeluarga bukanlah tanpa merasa bertanya-tanya, namun egolah yang bertanya, bukan hati. Saya tidak yakin saya siap membagi waktu saya untuk menjaga suatu hubungan pernikahan. Inipun kian saya sadari ketika sedang mengevaluasi tujuan hidup saya dalam 3 tahun ke depan.
Waktunya akan tiba bila memang saya sudah siap dan Tuhan memberikan jalan. Dan belakangan, Allah memang sepertinya memang memberikan petunjuk agar saya sekarang fokus saja dulu pada tujuan karier dan pendidikan saya. Dari mulai Bapak meninggal, saya ditawarkan posisi yang lebih bermanfaat serta insiden “patah hati” belakangan ini.
Nah mengenai insiden “patah hati” ini, saya bahkan tidak yakin saya mengalaminya. Mungkin sekali lagi, lebih karena ego pribadi yang tertohok. Itu atau saya memang mengalami kasus penyangkalan yang parah. Entahlah. Sedih, iya. Sesal, iya. Kesal pun iya. Tapi kalau cuma segini rasanya patah hati, kok sepertinya orang lain hanya membesar-besarkan saja. Yaudahlah, bagaimanapun juga harus tetap move on kan?
Nah sekarang, mengenai pasangan hidup ideal. Saya kira dia memang the one, dan these sparks between us were real. Tapi Allah sepertinya memang menentukan dia bukan jodoh saya dan kini saya sadar kenapa. The whole time I was with him, all I did was trying to impress him. Seharusnya saya tahu dong, kalau ini salah. Sekali lagi, di sini ego yang bermain. But, if he was the one, it would feel right, right?
Saya jadi berpikir orang seperti apa sih yang saya bayangkan sebagai pasangan hidup. Saya hanya ingin orang yang saya bisa ajak ngomong macam-macam dengan cerdas, wawasan luas, dewasa, terus terang dan mempunyai pendapat yang saya bisa terima walau tak setuju. Dan dipikir-pikir lagi nih, hanya tiga orang yang pernah saya temui yang memiliki karakteristik di atas. Pertama, adalah almarhum Bapak saya. Yang kedua dan ketiga adalah yang saya temui dalam dunia kerja dan dua-duanya orang asing - Amerika untuk tepatnya.
Mungkin benar juga pendapat teman-teman saya (banyak lho yang bilang) bahwa mereka memprediksi saya akan berpasangan dengan orang asing. Mungkin secara personalitas, mereka bisa berbicara pada level yang sama. Bukan berarti orang Indonesia tidak bisa, belum pernah ketemu pada tepatnya. The way I think, and the way I do things, memang mungkin bisa mengintimidasi. Tetapi maaf ya, kalau memang bukan orang yang tepat, buat apa saya menurunkan standar?
Ya sudahlah, pokoknya tahun ini karier dan pendidikan yang didahulukan, ya Nis? Kejar mimpimu!
Saturday, June 16, 2012
Be Careful for What You Wish.
Those sayings can’t be truer. What I wish was a job that would take me to places, more in touch to human beings and ofcourse, with a better pay. So the Universe, God and everything in it conspire to make my wish come true and oh boy, I am definitely in for a ride.
Unlike what I used to do in my previous workplace - which lay heavily on the concepting of programs, what I do now is the implementation of multiple scholarship programs. I hope that this will provide me with a learning curve for technical skills that I considered lack of. That, and also the experience of working in a professional, business-minded environment. So, I have many things to look up to.
Two weeks after my first day moving in, I was asked to go to a small town named Cepu, which is located basically in the middle of nowhere. To be exact, in the border between Central and Eastern Java. Four hours from Semarang and equally from Surabaya. Long travel on-land.
I was excited as I can be, traveling to a strange place, but I was worried with the long travel by car. I have books and my iPad with me, so I know I won’t be bored, but reality is the landscape was quite breath-taking in a very ruralistic point of view.
Along the road that stretch long between Surabaya and Cepu, there is a vast spread of ripening ricefields. Green and yellow here and there. Dilapidated joglo houses interspersed with the modern ones. Children were riding back from school with their bikes. Farmers working hard in their fields, cultivating the soil for small earnings. I can’t help to feel a little bit melancholic.
Just before we reached the road out of Surabaya, I also saw wide patches of salt farm. Empty lands are watered by ocean water from the wells and then being dried out under the sun, leaving a thin layer of unpurified salt powder. Many of the salt farm houses are in the brink of destructions. This made me wonder, where have the farmers gone? Have they left forever or is it just not a salt farming season?
Four hours later, I arrived at Cepu. From what I saw from the journey crossing the town, it is a dusty little town, only being kept alive by the near oil mines and the businesses that support it. Needless to say, the wealth brought up by the mines do not touch Cepu’s native dwellers. The luxurious complex of international oil and gas company sit side by side with groups of houses with roof made from palm leaves and bamboo. It is ironic, yet it is not uncommon. Not here, not in Papua.
Traveling does change your perspectives, doesn’t it? Here I am complaining about small things while some people happily live a meager life. Who are these people along the road, what are their dreams and how do they see their own lives? Have they found a reason for existence? Or does it even matter for them?
Then I remembered, Jack Kerouac once wrote:
Live. Travel. Adventure. Bless. And don’t be sorry.
I wonder
Not sure whether it is a broken heart or just a bruised ego.
Ya sudahlah. I have moved on anyway.