Semuanya memang akan menjadi indah pada saat-Nya. Mungkin bukan kemarin, mungkin bukan pada saat kita menginginkannya, melainkan hanya pada waktu yang tepat menurut-Nya. Alhamdulillah. – View on Path.
Monday, September 30, 2013
Saturday, September 28, 2013
Wednesday, September 25, 2013
Tuesday, September 24, 2013
Friday, September 20, 2013
Sunset at Delegan Beach, Gresik. Finding secluded spots that only a few people know is one of the best things I experienced during travels. This short stretch of a white, sandy beach is tucked in the northern shore of Gresik, 2 hours from Surabaya. Barely developed, there’s not a handful activities you can do here. You can have lunch at little cafes along the beach, play kites, rent a tube boat to float on the calm water, or like me, watching the fishermen doing their daily activities. at Pantai Delegan – View on Path.
Sunday, September 15, 2013
Thursday, September 12, 2013
Abraham Lincoln (via rainysundaysandcoffee)
Alan Bennett; The Uncommon Reader (via rainysundaysandcoffee)
Jessalyn Wakefield (via rainysundaysandcoffee)
Lauren Morrill, Meant to Be (via rainysundaysandcoffee)
Tuesday, September 10, 2013
Wednesday, September 4, 2013
Tentang Pasangan Hidup
Perbincangan dengan dua orang sahabat tadi malam diawali dengan menganalisa motivasi dari pria dan wanita yang berselingkuh. Sang pria yang sudah beristri dan beranak berselingkuh dengan teman kerja wanitanya.
Sisi rasional saya tidak bisa memahami mengapa sang wanita mau berdekatan dengan pria beristri, namun saya bisa memahami sisi sang pria, karena well, boys will always be boys.
Sang pria sepertinya merasa istrinya kurang bisa memenuhi kebutuhan emosionalnya. Antara lain mungkin karena sang istri bukan tipe wanita pengumbar perasaan dan sedang sibuk dengan anak kedua yang baru lahir beberapa bulan. Egoisme tingkat tinggi dari sisi sang pria, memang. Toh, seharusnya keputusan menikah didasari dengan kesadaran bahwa mereka menerima sifat pasangan masing-masing, baik dan buruknya, serta kemauan untuk mencari titik tengah di antara dua perbedaan. Jadi, membingungkan juga bagi saya bila sang suami ibaratnya membeli baju berwarna merah, tapi berharap begitu dibawa pulang akan berubah menjadi warna biru. Ganti istri gak semudah ganti baju, bro!
Anyway, banyaknya kasus ketidakpuasan terhadap pasangan mengubah topik perbincangan malam kemarin mengenai pasangan ideal. Apakah kita mencari orang yang memiliki sifat yang sama dengan kita?
Saya jadi teringat filosofi Jawa, tumbu ketemu tutupe. Kuali bertemu dengan tutupnya. Nah, menurut eyang-eyang kita dulu, mencari pasangan ideal justru berarti mencari pasangan yang akan melengkapi kita. Kelemahan istri diperbaiki dengan kekuatan suami, dan juga sebaliknya. Dan ini harus dibina dengan penerimaan atas sifat masing-masing.
"Kalau begitu, pasangan ideal adalah pasangan yang bertolak belakang?", teman saya bertanya. "Opposite attracts, begitu?”
Well, kuali bisa cocok dengan tutupnya kalau diameternya sama kan? Jadi berarti walau sifat bertolak belakang, juga harus ada kesamaan yang mendasari hubungan mereka. Entah kesamaan prinsip, kesamaan tujuan hidup, atau kesamaan cara menjalani kehidupan. Ini menurut saya yang disebut sebagai chemistry.
So, chemistry should mean much deeper than a mere physical reaction.