Wednesday, June 20, 2012

An Imaginary Friend Called Ego

Hari ini saya ikut pelatihan Time Management yang diadakan di kantor. Banyaknya kesempatan mengikuti training memang menjadi salah satu faktor yang membulatkan saya untuk pindah kerja.



Training hari ini berjalan dengan menarik, namun entah kenapa topiknya lebih mengenai self motivation dan bagaimana membuat prioritas dalam hidup dan pekerjaan. Oleh pengajar, kami diberi tugas untuk memikirkan goal-goal apa saja yang kami ingin capai dalam hidup.



Goal yang saya putuskan adalah untuk mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah tahun depan; jadi program manager dalam waktu 3 tahun lagi; dan jangka pendeknya adalah sebelum akhir tahun sudah memiliki SIM A alias bisa nyetir. Kalau disimpulkan memang berarti goal saya masih seputar personal development, pendidikan dan karier. Semuanya mengacu kepada keinginan saya untuk menjadi lebih independen dalam hidup. Mengapa independensi sangat penting bagi saya? Akan saya ceritakan di kesempatan yang lain.



Entah berhubungan atau tidak antara goal hidup saya dan keinginan untuk mandiri itu, yang jelas ada satu goal hidup bagi kaum hawa yang dilewatkan oleh saya, setidaknya untuk tahun ini, yaitu mencari pasangan hidup. Menikah memang bukan target jangka pendek saya. Selama ini, melihat teman-teman lain menikah dan berkeluarga bukanlah tanpa merasa bertanya-tanya, namun egolah yang bertanya, bukan hati. Saya tidak yakin saya siap membagi waktu saya untuk menjaga suatu hubungan pernikahan. Inipun kian saya sadari ketika sedang mengevaluasi tujuan hidup saya dalam 3 tahun ke depan.



Waktunya akan tiba bila memang saya sudah siap dan Tuhan memberikan jalan. Dan belakangan, Allah memang sepertinya memang memberikan petunjuk agar saya sekarang fokus saja dulu pada tujuan karier dan pendidikan saya. Dari mulai Bapak meninggal, saya ditawarkan posisi yang lebih bermanfaat serta insiden “patah hati” belakangan ini.



Nah mengenai insiden “patah hati” ini, saya bahkan tidak yakin saya mengalaminya. Mungkin sekali lagi, lebih karena ego pribadi yang tertohok. Itu atau saya memang mengalami kasus penyangkalan yang parah. Entahlah. Sedih, iya. Sesal, iya. Kesal pun iya. Tapi kalau cuma segini rasanya patah hati, kok sepertinya orang lain hanya membesar-besarkan saja. Yaudahlah, bagaimanapun juga harus tetap move on kan?



Nah sekarang, mengenai pasangan hidup ideal. Saya kira dia memang the one, dan these sparks between us were real. Tapi Allah sepertinya memang menentukan dia bukan jodoh saya dan kini saya sadar kenapa. The whole time I was with him, all I did was trying to impress him. Seharusnya saya tahu dong, kalau ini salah. Sekali lagi, di sini ego yang bermain. But, if he was the one, it would feel right, right?



Saya jadi berpikir orang seperti apa sih yang saya bayangkan sebagai pasangan hidup. Saya hanya ingin orang yang saya bisa ajak ngomong macam-macam dengan cerdas, wawasan luas, dewasa, terus terang dan mempunyai pendapat yang saya bisa terima walau tak setuju. Dan dipikir-pikir lagi nih, hanya tiga orang yang pernah saya temui yang memiliki karakteristik di atas. Pertama, adalah almarhum Bapak saya. Yang kedua dan ketiga adalah yang saya temui dalam dunia kerja dan dua-duanya orang asing - Amerika untuk tepatnya.



Mungkin benar juga pendapat teman-teman saya (banyak lho yang bilang) bahwa mereka memprediksi saya akan berpasangan dengan orang asing. Mungkin secara personalitas, mereka bisa berbicara pada level yang sama. Bukan berarti orang Indonesia tidak bisa, belum pernah ketemu pada tepatnya. The way I think, and the way I do things, memang mungkin bisa mengintimidasi. Tetapi maaf ya, kalau memang bukan orang yang tepat, buat apa saya menurunkan standar?



Ya sudahlah, pokoknya tahun ini karier dan pendidikan yang didahulukan, ya Nis? Kejar mimpimu!

No comments:

Post a Comment