Sudah berapa lama kau dan aku duduk, dengan secangkir teh untukku dan secangkir kopi untuk kau hirup, membicarakan mengenai asa? Sudah berapa kali, kau dengan asap terus keluar dari sela-sela bibir, menuangkan kekhawatiranmu di atas meja dan aku coba menampungnya? Sudah seberapa jauh aku terjerumus oleh kata-kata manismu sebelum kau diam seribu bahasa? Sudah seberapa erat kau genggam hatiku ketika aku pikir kau memintanya?
Mungkin aku memang tak cukup untukmu. Tak cukup cantik. Tak cukup baik. Entahlah. Yang pasti aku tak cukup pintar untuk tidak jatuh ke lubang yang sama. Tak cukup pandai untuk sadar bahwa kita terus membicarakan mengenai dirimu, tak pernah diriku. Tak kunjung sadar bahwa aku selalu ada untukmu, tapi kau jarang untukku.
Yang paling menyakitkan bukanlah karena kau memilih berteduh di hati yang lain. Bukan karena jalan kita tidak bersinggungan. Bukanlah karena asamu tidak pada masa depanku. Bukanlah karena kau tidak cukup ksatria untuk jujur tentang segalanya.
Yang paling menyakitkan adalah ketika kau bahkan tidak menghargaiku sebagai teman. Ketika kau tak percaya bahwa aku bisa bahagia untukmu. Yang paling menyakitkan adalah karena aku tak punya jawaban: if we weren’t friends, what are we then?
No comments:
Post a Comment