
Udara pagi menelusup kantong tidur dan mencengkeram dadaku dengan jari-jarinya yang membeku. Kutelungkupkan badan, namun kini justru punggung yang menggigil. Pukul empat pagi suhu sedang dingin-dinginnya. Gagal kembali tidur, aku keluar tenda menanti terbitnya matahari.
Ranu Kumbolo hening, sebagian besar pendaki masih tertidur nyenyak di tendanya masing-masing. Hanya ada segelintir pengejar fajar, menanti datangnya hari.
Hari baru lahir dari antara dua bukit kembar, cahayanya memantul di permukaan danau. Kilaunya yang keemasan menjadikan batang-batang pohon pinus di tepi danau menyala seperti logam yang terbakar. Desau angin menggoyangkan ilalang, merontokkan embun yang bergantung pada ujungnya yang tajam.

Sejauh mata memandang, berkas cahaya memberi warna pada lukisan pagi, mendamaikan hati. Saat ini, di sini, momen ini milikku.
Sambil duduk di atas batang pinus yang tumbang ke tengah danau, kularung gundahku pada ombak kecil yang berkecipuk. Kusejukkan sanubariku dengan kabut putih yang turun dari lereng bukit. Kutitipkan asaku pada burung yang bernyanyi. Kubiarkan benakku lari bersama awan putih di atas sana.
I love sitting outside in the nature just before sunrise, listening to the sound of wind, where it feels like the rest of the world is still sleeping, and I am the only one who’s awake. I kind of forget all of my problems, because for a moment there, it’s just me, the wind, and the rising sun.
"Woi, Mbak, di sini toh ternyata! Dicariin dari tadi." Juli menyahut.
"Elo pada masih tidur tadi, jadi gue ngebolang aja sendiri hehehe…"
"Kita jalan ke sana yuk." Acep menunjuk ke arah barat, di mana sejumlah tenda warna-warni bergerombol di depan bukit. Asap membumbung dari kompor yang dinyalakan pendaki untuk sarapan.
Bukit barat merupakan primadona dari Ranu Kumbolo. Tidak hanya karena menyajikan pemandangan fajar yang memukau, bukit ini terkenal dengan tanjakan curamnya, lebih dari 45 derajat, yang juga merupakan jalur pendakian ke puncak Mahameru. Tanjakan ini lebih dikenal dengan nama Tanjakan Cinta.
Tanjakan ini konon dinamakan demikian karena cerita tragis sepasang sejoli yang mendaki bukit ini. Sang pria mendahului sang kekasih yang kemudian kelelahan dan pingsan di tengah jalan, terguling ke dasar bukit dan meninggal dunia.
Kisah inilah yang mendasari mitos, siapapun yang mendaki Tanjakan Cinta tanpa berhenti di tengah jalan dan menengok ke belakang, akan menemukan cinta yang abadi.

Percaya gak percaya sih.
Juli, yang agak anti tanjakan, menolak naik dan lebih memilih berfoto-foto ria dengan Acep di bawah. Jadilah hanya aku dan Dani yang naik. Tujuanku satu, melihat padang Oro-oro Ombo dan puncak Mahameru dari balik bukit ini.
Lereng Tanjakan Cinta yang terjal cukup sulit ditaklukkan. Dani, yang memang otot-otot betisnya liat, menanjak dengan cepat, meninggalkanku yang terseok-seok naik. Setiap lima langkah diselingi rehat mengatur paru-paru yang kembang-kempis.
Oke, Dan, gue rasa cinta kita gak akan abadi kalau begitu, batinku.
Perjuangan terbayarkan begitu aku menjejakkan kaki di atas bukit dan membalikkan badan ke arah Ranu Kumbolo.
Sudah pernah nonton film 5 cm? Aku sih belum, bukunya juga belum. Tapi kata yang sudah pernah nonton, pemandangan dari atas Tanjakan Cinta inilah yang membuat orang-orang berbondong mendaki Semeru setelah menonton film tersebut.

Aku setuju, pemandangan dari atas Tanjakan Cinta ke arah Ranu Kumbolo merupakan salah satu titik penting dari pendakian ke Semeru. Kurang rasanya bila dilewati begitu saja.
Rumput-rumput di bukit yang mengelilingi Ranu Kumbolo menyala tertimpa matahari pagi, kontras dengan pendar kehijauan permukaan danau. Kumpulan tenda-tenda di kaki bukit semarak dengan warna kehidupan.
Di balik bukit Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo terhampar di kakiku. Padang ilalangnya menguning terbakar matahari. Gunung Kepolo menghadang di ujung savana tersebut, di baliknya terlihat puncak Mahameru mengintip. Kubuka telinga lebar-lebar untuk mendengar angin berbisik pada ilalang dan meliuk di antara gerombolan pohon pinus. Birunya langit terang benderang mengundang sejuta asa agar terbang bersama awan.
Sayang saat itu bukan waktunya tanaman ‘lavender’ bermekaran di Oro-oro Ombo. Di pergantian musim penghujan ke musim kemarau, padang gersang ini akan semarak dengan bunga-bunga yang berwarna ungu dan mirip bunga lavender.
Hasil googling di kemudian hari mengungkapkan fakta menarik. Ternyata bunga ungu tersebut bukan bunga lavender yang banyak dikira para pendaki. Tanaman berbunga ungu tersebut ternyata tanaman asing asal Amerika Selatan dengan nama Latin Verbena brasiliensis Vell. Di balik keindahannya, tanaman ini ternyata bersifat invasif dan dapat menjadi ancaman ekologis yang mengganggu keseimbangan ekosistem tanaman asli di Gunung Semeru.
"Mbak, balik ke tenda yuk, sarapan, laper nih!", panggil Dani yang mungkin bosan menungguiku termenung memandang Mahameru. Dengan malas, aku bangkit dari duduk untuk mengikuti Dani turun dari Tanjakan Cinta. Tak ingin rasanya beranjak, tapi matahari sudah semakin tinggi. Kusempatkan berbisik pada padang ilalang Oro-oro Ombo, aku akan kembali. Aku harus kembali.
Pada kesempatan itu kami semua tidak akan mencoba naik ke Mahameru, cukup sampai Ranu Kumbolo. Siang itu kami akan turun kembali ke Ranu Pani, menginap semalam di Malang, dan meneruskan perjalanan ke Pulau Sempu.
Oh iya, masih ingat mitos Tanjakan Cinta dan Juli yang menolak naik? Hanya selang satu hari setelah kami pulang dari Malang, Juli dan Acep putus, cinta mereka kandas di tengah jalan. Apa karena gak mau naik Tanjakan Cinta? Entahlah. Percaya gak percaya.
No comments:
Post a Comment