Thursday, March 13, 2014

Berjalan di antara Awan

image
To travel is to take a journey into yourself - Danny Kaye

Kata orang, menulis tentang mendaki gunung itu susah. Jangankan menuliskannya, pada awalnya pun saya tidak begitu paham kenikmatan (yang menyiksa) dari mendaki gunung. Lumpur, basah, becek, lintah, nanjak, susah, lelah. Sudah sampai puncak, lalu turun lagi. Seperti hukuman yang diberikan dewa kepada Sisyphus dalam mitologi Yunani. Buat apa?




Namun, dalam semua buku yang bercerita tentang pendaki gunung yang pernah saya baca, dari Soe Hok Gie, Norman Edwin hingga pendakian Everest-nya Jon Krakauer, diceritakan bahwa pendakian gunung lebih merupakan pencarian jati diri, bukan untuk menorehkan nama di puncak gunung. Kenikmatan ditemukan justru saat mereka berhasil melawan kata hati mereka yang berkata, “Berhenti, menyerahlah.”

Jujur, saya penasaran. Kakak-kakak saya pun seringkali bercerita mengenai euforia mereka mendaki gunung. Lama-lama, saya pun jadi tertarik untuk memperluas cakrawala perjalanan.

Inilah alasan kenapa Jumat siang itu saya menunggu kereta di Stasiun Senen. Perjalanan kali ini sangat berbeda dibandingkan perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Tiket pesawat diganti dengan tiket kereta, ekonomi pula. Koper diganti ransel carrier berat di punggung. Voucher hotel mewah pun menjadi voucher hotel alam yang gratis, alias tenda! Intinya, perjalanan ini akan menjadi perjalanan nggembel pertama saya.

Tujuan? Gunung Semeru, Malang!

Dengan bunyi peluit sember, kereta ekonomi AC yang kami tumpangi berangkat pukul tiga sore. Namanya juga nggembel, alat transportasi dicari yang semurah mungkin. Yang murah tentu tidak cepat. Perjalanan ke Malang akan ditempuh dalam waktu 18 jam dengan perkiraan waktu tiba di Malang jam 9 pagi besok. A lot of time to kill…

Perjalanan memang panjang, tetapi hamparan sawah yang baru ditanami di luar jendela kereta Majapahit itu cukup menghibur. Kabel listrik meliuk naik turun berkejaran dengan laju kereta yang cepat. Sayang tak lama pemandangan itu kami nikmati karena sore sudah berganti malam.

Waktu saya habiskan untuk mengenal tiga teman seperjalanan yang lain, teman baru yang akan menempuh petualangan yang sama. Kami semua berbeda: usia, suku, pekerjaan. Juli, teman sekantor saya, belum lama lulus kuliah. Acep, pacar Juli kala itu, hasil cinta lokasi di Gunung Rinjani, tak lulus-lulus kuliah juga karena sibuk mendaki gunung. Dani, sohib Acep semasa remaja di Tasikmalaya, baru pulang sehabis mengais rezeki di Jepang. Kami disatukan dengan hasrat yang sama, mendaki gunung Semeru.

Malam semakin larut, percakapan di dalam kereta mereda. Petugas yang menyewakan bantal hijau berkeliling, “Bantal, bantal!”. Beberapa penumpang memanggil petugas itu, mencoba menyamankan posisi tidur mereka karena sandaran bangku yang tegak lurus menyiksa punggung. Udara AC membuat kami merapatkan jaket dan meringkuk mencari kehangatan.

Kota demi kota kecil sepanjang jalur kereta yang melintasi pulau Jawa dari barat ke timur kami lewati. Kereta berhenti di setiap stasiun, penumpang berganti naik turun, pedagang asongan hiruk pikuk mencuri kesempatan menawarkan dagangannya.

***

Setelah sampai di Malang pukul 9 pagi, kami menuju terminal untuk menyambung angkot hingga ke Pasar Tumpang. Di situ kami akan mencari tumpangan ke desa Ranupani, pintu masuk jalur pendakian Semeru. Kami sempatkan untuk makan siang, melengkapi perbekalan, merapikan isi tas, juga mampir ke puskesmas untuk meminta surat keterangan kesehatan yang diperlukan untuk izin pendakian.

Alhasil kami tiba di Pasar Tumpang saat matahari di ujung kepala. Di Pasar Tumpang kita bisa menyewa jeep kecil terbuka untuk mencapai Ranupani, dengan biaya empat ratus ribuan untuk 4-6 orang. Sayang siang itu, mobil sudah berangkat semua ke Ranupani. Informasi yang kami dapatkan pun, jalanan menuju Ranupani sedang diperbaiki sehingga harus menyambung dengan jalan kaki dan ojek. Akhirnya pilihan yang tersedia adalah menumpang truk sayur dengan biaya murah saja, sekitar dua puluh ribu per orang, namun memang harus menunggu beberapa rombongan lain.

Menjelang sore, rombongan akhirnya memenuhi bak truk sayur dan kami akhirnya berangkat. Termasuk kami, belasan penumpang berdiri berpegangan ke dinding truk, mencoba menjaga keseimbangan sementara supir mengemudikan truknya di atas jalan yang lumayan rusak. Di beberapa titik, jalur berubah ekstrim. Belokan tajam menanjak, di pinggir jurang yang dalam.

Sekitar satu jam truk sayur membawa kami naik hingga melewati desa Ngadas. Desa ini bertengger di antara kebun-kebun sayur di lereng pegunungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS). Berada di ketinggian 2.150 mdpl menjadikan desa ini desa tertinggi di Pulau Jawa.


image

Bagi saya, desa ini lebih tepat dinamakan desa di atas awan.


Saking tingginya desa Ngadas, awan seperti di ujung jari. Matahari yang mulai tergelincir ke arah barat membiaskan cahaya keemasan yang menghalau dinginnya kabut yang turun. Kiri, kanan, kulihat saja, banyak kebun sayuran, batin saya bersenandung dengan irama lagu masa kanak-kanak yang tiba-tiba terbersit di pikiran. Penduduk desa terlihat berjalan pulang selepas bekerja di kebun sayur mereka. Anak-anak kecil bermain di jalan sempit yang diapit rapat oleh rumah-rumah penduduk. Para lanjut usia bercengkerama di teras rumah. Tipikal kehidupan desa yang damai.


image
I felt my lungs inflate with the onrush of scenery - air, mountains, trees, people. I thought, “This is what it is to be happy.” - Sylvia Plath

Desa Ngadas ini didiami oleh suku asli Tengger, satu-satunya yang terletak di Kabupaten Malang. Suku Tengger lainnya tersebar di sebelas desa di Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan. Suku Tengger memegang teguh kepercayaan dan adat tradisional mereka, namun tidak seperti suku Baduy Dalam di Banten, suku Tengger tidak menolak peradaban modern dan sudah mengenal sekolah.

Keinginan hati untuk berlama-lama di desa yang elok ini, namun perjalanan harus dilanjutkan. Jalan semakin menanjak, membuat jantung ketar-ketir. Akhirnya truk berhenti di depan warung-warung kecil yang terbuat dari bambu. Selain penganan kecil, warung-warung ini menyajikan jamuan yang dahsyat. Di pinggir jalan yang baru di beton, terhampar pemandangan lembah Bromo yang indah. Lembah luas yang beralaskan rumput, kedua sisinya berdiri lereng-lereng tinggi pegunungan Bromo - Semeru. Posisi kami yang di atas lereng membuat terpaan angin terasa kencang, dan kabut pun turun menyentuh tubuh kami yang kedinginan.


image

Ingin rasanya memiliki sayap, untuk terbang bersama angin, mengantarkan asa kami hingga ke puncak Mahameru.


Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Kami masih harus berjalan beberapa kilometer lagi menelusuri jalan di atas lereng Semeru ini yang sudah dibangun sejak jaman Belanda. Di tengah jalur, kami permisi melewati sekelompok pekerja yang sedang mengeraskan jalan dengan beton. Karena perbaikan jalan ini, baru kami bisa menyambung dengan ojek ke desa Ranupani di Kabupaten Lumajang.

"Pak, pelan-pelan aja ya!", pinta saya yang berguncang-guncang di atas jok motor.

"Pegangan, Mbak!"

Aduh, ransel saya yang berat membuat saya hampir terjengkang dari motor karena jalanan yang berlubang-lubang. Terpaan udara dingin memucatkan wajah dan membekukan tangan yang memegang erat pegangan belakang motor. Namun, saya berhasil tiba dengan selamat di pos pendakian di desa Ranupani. Ternyata walau hari sudah sore, masih banyak pendaki yang sedang mempersiapkan diri untuk mendaki.

Jalur pendakian resminya ditutup setelah pukul lima sore. Karena itu kami segera melapor, membayar tiket masuk dan menyerahkan dokumen yang disyaratkan, serta makan sore di warung depan pos.

Kami berencana mendaki malam hari. Pendakian gunung pertama saya, dan malam hari pula.

"Yakin, naiknya malam? Jalurnya emang keliatan?", ujar saya khawatir.

"Jalurnya cukup jelas kok, lurus-lurus aja. Lagian kita pelan-pelan aja naiknya. Kalau capek, ya istirahat.", jawab Acep menenangkan saya. Dia memang sudah beberapa kali mendaki Semeru.

"Berapa lama memang sampai Ranu Kumbolo?", tanya saya lagi. Kami memang memutuskan sampai Ranu Kumbolo saja, mengingat jalur pendakian ke Semeru yang cukup berbahaya, terutama bagi pemula seperti saya.

"Yah, kalo kita pelan-pelan, mungkin sekitar 4 - 5 jam."

Kami lalu menelusuri jalan aspal dari pos pendakian. Di kiri kami, pemakaman penduduk setempat bertengger di bukit di sebelah kiri kami, sedangkan kebun sayur penduduk terhampar di kanan jalan. Sekitar 15 menit berjalan, jalur bercabang dua. Jalur lurus menuju Bromo, sedangkan jalur kanan berdiri gerbang bertuliskan, “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru”.

Selepas berfoto-foto dan berdoa sejenak, kami pun memasuki jalur pendakian. Jalur aspal kini berubah menjadi jalur tanah yang landai. Jangan terkecoh mengikuti jalur landai tersebut karena hanya mengantarkan kita ke kebun sayur warga. Jalur pendakian ke Semeru justru menaiki bukit di samping kebun, hanya ditandai oleh dua pancang besi. Bukit ini tidak terlalu terjal, tapi cukup membuat napas saya terengah-engah. Tiga puluh menit pertama memang yang paling menyiksa, karena tubuh belum teraklimatisasi dengan beban aktivitas fisik yang berat.

Benar juga kata Acep, jalur pendakian Semeru cukup jelas, karena sudah diberikan pavement, walaupun seringkali jalur tersebut tertelan semak belukar. Sepanjang jalur, kami berjumpa dengan pendaki lain yang baru turun dari Semeru. Perjuangan masih panjang, kawan!

Jalur yang landai dengan cepat kami lahap. Tidak sampai satu jam, kami tiba di area Landengan Dowo, 2300 mdpl, 3 km dari Ranupani. Titik istirahat pertama yang sebenarnya hanyalah clearing kecil di antara hutan, ditandai oleh papan pemberitahuan. Jalur mulai menanjak dari Landengan Dowo ini, apalagi matahari semakin rendah di ufuk barat.

Cahaya senja sudah remang-remang begitu kami sampai di Pos Satu. Saya dan Dani tiba terlebih dahulu, sedangkan Juli dan Acep tertinggal di belakang.

Di sini kami berjumpa dengan serombongan pencinta alam dari suatu SMA di Probolinggo. Sambil menunggu Juli dan Acep, kami bertukar sapa. Hebat sekali, mereka berencana untuk mendaki hingga ke Mahameru.

Di Pos Satu, api unggun sudah menyala, entah siapa yang membuatnya, tapi lumayan untuk menghadang hawa dingin yang menusuk tulang. Berdiam diri justru semakin dingin, maka saya segera merapat menghangatkan badan. Hmm, andaikan bisa sambil bakar ubi di sini, pasti sedap.

Sayup-sayup saya mendengar seperti ada yang memanggil, “Mbaaaak?…”. Otomatis saya menjawab, “Jul?”. Saya pikir Juli yang menyahut.

"Ssst… Mbak, jangan manggil-manggil nama kalo di gunung", potong Dani. Dani kemudian mewanti-wanti, kalau mau memanggil rombongan lain, gunakan peluit atau kode suara, tak terlalu jelas alasan logisnya apa.

Cukup lama kami menunggu Juli dan Acep, yang akhirnya tiba ketika malam sudah menjelang.

Setelah membiarkan Juli dan Acep beristirahat, kami melanjutkan perjalanan bersama.

"Kalian jalan aja duluan, nanti kita ketemu di jembatan Watu Rejeng", usul Acep. Jalur menuju Watu Rejeng tak banyak berbeda, pohon dan ilalang mengapit jalur kering berdebu. Jarak Landengan Dowo - Watu Rejeng kurang lebih sama, 3 km, namun hutan yang gelap, banyaknya pohon tumbang dan longsor yang merusak jalur, membuat perjalanan kami melambat. Begitu tiba di jembatan Watu Rejeng, kami pun beristirahat mengisi perut. Duduk di pinggiran jembatan kayu menikmati keheningan Watu Rejeng. Purnama malam itu membuat tebing batu putih Watu Rejeng berkilau keperakan.

Karena malam semakin larut, kami bergegas dari Pos Dua hingga ke Pos Tiga. Pos Tiga hanya ditandai oleh gubuk yang tinggal atapnya saja. Tepat di sebelah Pos Tiga, jalur membelok tajam dan menanjak curam. Tanjakan panjang yang dikenal dengan tanjakan Bakri (karena konon katanya dibuat oleh Pak Bakri, seorang warga Ranu Pani) cukup membakar otot-otot dengkul. Hampir saya menyerah berhenti di tengah tanjakan, kalau otot saya itu mesin, bau hangus karet terbakar pasti sudah tercium, tapi Dani menarik paksa saya agar cepat sampai di ujung tanjakan.

Tak banyak kami berbicara sepanjang jalan. Kedua mata fokus melihat bidang jalur yang diterangi headlamp. Saya hanya mendengarkan pertempuran batin di dalam diri.

Ketika rasa takut akan gelapnya malam, dijawab dengan “Ayo, kamu bisa Nis!”

Ketika badan lelah, disemangati dengan “Ayo, sedikit lagi kita bisa istirahat”.

Ketika kaki yang tergelincir, diwanti-wanti dengan “Hei, hati-hati, kuatkan pijakanmu Nis!”

Andai ada yang bisa mendengar percakapan batin saya malam itu, mungkin saya akan terdengar seperti Gollum, makhluk split personality di trilogi Lord of the Ring yang senang bergumam, “Preciousss, my precioussss….” “Precious” bagi saya malam itu, bukan sebentuk cincin yang bisa menaklukkan dunia, cukup kemauan pantang menyerah untuk sampai di Ranu Kumbolo.

Malam sudah sangat larut begitu kami tiba sampai di Pos Empat, memandang ke arah lembah Ranu Kumbolo. Cahaya purnama keemasan di atas permukaan danau Ranu Kumbolo. Lampu-lampu tenda pendaki semarak menyaingi kelip bintang di malam kelam. Hah, kami sempat terkecoh. Lampu tenda di bawah sana membuat kami mengira lokasi perkemahan sudah dekat. Eh, ternyata masih jauh. Apalagi jalur turun cukup terjal dan licin oleh tanah berdebu.

Di sebelah utara danau Ranu Kumbolo, Acep menghentikan rombongan di antara ilalang-ilalang pendek. “Sudah, malam ini kita berkemah di sini saja. Di situ ada tanah lapang yang kosong. Lembah barat kayaknya ramai.” Kami pun memasang tenda dan bersiap-siap menghabiskan malam di Ranu Kumbolo.

***

Bersambung ke bagian berikutnya.

No comments:

Post a Comment