Panas terik matahari tidak mengurungkan niat kami untuk berkeliling situs percandian Muaro Jambi siang itu. Cukup mengejutkan sebenarnya, karena saya kira pembangunan candi di masa lalu merupakan budaya yang hanya berkembang di tanah Jawa. Situs Muaro Jambi ini terletak 40 km di timur kota Jambi dan membentang sepanjang sungai Batanghari di wilayah seluas 26 ha, menjadikannya situs percandian terluas di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Mengalahkan Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat di Kamboja. Tidak disangka-sangka bukan? Situs percandian ini merupakan warisan sejarah kerajaan Sriwijaya di abad 11 M serta bercorak agama Hindu - Buddha.
Dengan tiket masuk 4 ribu rupiah per mobil dan 3 ribu rupiah per orang, kita sudah bisa berkeliling candi-candi yang ada sepuasnya. Disarankan memang menyewa sepeda seharga 10 ribu rupiah agar bisa puas menjelajah tanpa perlu melelahkan kaki. Seru juga bisa bersepeda keliling kompleks candi.
Candi-candi di situs ini tersebar di kawasan yang ada dan konon jumlahnya banyak sekali, kira-kira ada 61 candi. Hanya beberapa yang sudah diokupasi dan dipugar. Sebagian besar masih berupa gundukan-gundukan tanah di kebun warga. Dari candi-candi yang sudah dipugar ini ada 3 yang saya sempat jelajahi, yaitu Candi Gumpul, Candi Tinggi dan Candi Kembar Batu.
Struktur bangunan candi ini berbeda dengan candi-candi di Jawa. Tidak seperti Borobudur atau Prambanan yang tersusun darj batu-batu gunung berwarna keabuan, candi-candi di Muaro Jambi ini berwarna jingga karena terbentuk susunan batu bata. Masyarakat kala itu membentuk setiap potongan batu bata dari tanah liat yang banyak ditemukan di tepi sungai dan menyusun potongan demi potongan menjadi sebentuk candi yang indah. Materi batu bata dari tanah liat ini memang lebih rapuh daripada batu gunung sehingga struktur bangunan tidak terlalu tinggi dan megah, bahkan sebagian sudah hancur dilekang jaman. Kita bisa melihat perbedaan batu bata yang asli dengan hasil pemugaran. Batu bata yang asli sudah menghitam oleh lumut dan matahari sedangkan yang baru berwarna jingga cerah.
Di situs ini kita juga bisa mengunjungi kolam Telagorajo, suatu danau kecil di tengah kompleks candi. Konon kata penduduk setempat di situlah tempat keluarga kerajaan membasuh diri sehingga timbul mitos bila kita membasuh wajah dengan air kolamnya, kita akan awet muda dan akan kembali lagi ke situ. Sejujurnya, air danau yang keruh kehijauan membuat saya memilih untuk tidak percaya dengan mitos tersebut, cukup dengan menikmati pemandangannya yang indah saja.
Kompleks candi ini dikelilingi pohon-pohon yang tinggi serta perkebunan, jalur sepedanya pun sudah terbuat rapi dari beton. Cukup menyenangkan juga berkeliling dengan sepeda. Sayang memang tidak disediakan peta sehingga kami harus menebak-nebak arah. Pilihan lain adalah menggunakan jasa pemandu namun siang itu semua pemandu sedang beribadah shalat Jumat. Dan bila ingin berkeliling ke seluruh area, sebaiknya kita membawa perbekalan yang cukup karena pedagang makanan dan minuman hanya tersedia di dekat candi-candi terdepan.
Jambi ternyata menyimpan daya tarik wisata sejarah yang unik. Ingin sebenarnya saya mengunjungi Danau Kerinci juga tapi apa daya 10 jam yang dibutuhkan untuk mencapainya mengurungkan niat saya. Katanya sih ada pesawat menuju Kerinci sana, jadi lain kesempatan perlu direncanakan nih!
No comments:
Post a Comment