Friday, December 21, 2012

Pulau Kecil di Tengah Sungai

Kalau mengintip sejenak akun media sosial saya, kayaknya saya jalan-jalan terus ya? Padahal bener lho, saya ya ke mana-mana itu ya kerja. Hanya memang, salah satu trik saya agar tidak jenuh dengan pekerjaan dan perjalanan dinas adalah selalu menyempatkan diri untuk melihat dan membuka mata. Gak ada alasan gak ada waktu sebenarnya. You can have time if you make time.



Dalam perjalanan ke Palembang kali ini, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Pulau Kemarau di tengah sungai Musi yang luas. Untuk menuju pulau tersebut, kita bisa menyewa kapal dari dermaga sungai di depan Benteng Kuto Besak. Ada kapal getek, ada pula kapal boat yang cepat. Namun karena kami ingin menikmati pemandangan sepanjang sungai, kami pun memilih kapal getek yang membawa kami selama 45 menit menuju pulau Kemarau.

Melintas di bawah jembatan Ampera, kami disuguhi pemandangan kehidupan sungai yang sibuk. Sepanjang sungai memang banyak kapal-kapal angkut berukuran besar, siap mengangkut berbagai macam barang dari pabrik-pabrik yang bertebaran di pinggir sungai, salah satunya pabrik Pupuk Sriwijaya. Di sisi sungai lain, kampung tradisional berderet didominasi oleh rumah-rumah panggung milik warga setempat. Sekali dua kali kapal cepat melintas, menggoyangkan kapal kami dengan ombaknya yang besar.



Tak lama, terlihat sebuah pulau dengan pagoda menjulang di tengah kerimbunan pohon. Itulah pulau Kemarau, atau dalam bahasa lokalnya, Pulau Kemaro. Yang menjadi daya tarik pulau ini adalah adanya pagoda dan patung Buddha di sana yang seperti membawa kita ke negeri Cina. Hehehe berlebihan sih memang, karena justru yang menarik buat saya adalah legenda asal-usul didirikannya pagoda di pulau tersebut yang mirip-mirip cerita Romeo dan Juliet yang tragis.



Alkisah, ketika zaman kerajaan Palembang dahulu kala, seorang putri raja bernama Siti Fatimah disunting oleh saudagar Tionghoa yang kaya raya, Tan Bun An namanya. Pasangan itupun pergi ke dataran Tiongkok untuk menghadap sang mertua. Pulang dari sana, mereka dibekali 7 buah guci oleh keluarga. Di tengah perjalanan, Tan Bun An mengintip isi guci yang tertutup rapat. Ternyata guci itu dipenuhi oleh acar sawi. Geram, Tan Bun An pun melempar satu per satu guci ke tengah sungai. Guci terakhir dilemparnya ke lantai kapal hingga pecah berantakan. Ternyata di dasar guci tersimpan harta yang berharga. Tanpa berpikir panjang, melompatlah Tan Bun An ke sungai untuk menyelamatkan guci-guci yang sudah dibuangnya. Seorang awak kapal turut terjun membantu. Namun, lama tak tampak mereka berdua ke permukaan, tenggelam diterpa arus sungai yang kencang. Melihat kejadian itu, Siti Fatimah tidak rela ditinggal sang suami sehingga turut terjun ke tengah sungai. Nah, pagoda yang ada di Pulau Kemaro ini didirikan untuk menghormati pasangan ini dan dianggap keramat oleh penduduk setempat, terutama yang beragama Buddha.



Di pulau ini ada juga sebuah pohon besar yang dipagari rapat oleh bilah-bilah kayu. Kata kakak ipar saya sih di situ banyak makhluk mistisnya, namun kata penduduk setempat, pohon itu adalah Pohon Cinta. Pantas saja ada beberapa pasangan yang sedang memadu kasih di sana. Yang lebih lucu adalah di sekitar pagoda, juga terdapat patung-patung dalam legenda Si Kera Sakti, bahkan juga ada patung dua panda berpelukan. So random!



Yah karena memang pulaunya kecil saja, tidak banyak yang bisa dilakukan. Namun kunjungan itu menjadi lebih berkesan karena dalam perjalanan pulang kami disuguhi pemandangan indah senja di atas sungai Musi dengan siluet jembatan Ampera di kejauhan. This is what makes the trip worthwhile!

No comments:

Post a Comment