Friday, December 21, 2012

Tentang Durian

Jarang-jarang sebenarnya saya menulis tentang kuliner suatu daerah, namun kali ini saya perlu bercerita mengenai si raja buah, durian.



Akhir tahun ini ditutup dengan perjalanan dinas yang justru makin padat, dan memang kesempatan yang ada ialah untuk menjelajahi pulau Sumatera yaitu tepatnya kota Medan, Palembang dan Jambi. Kesamaan kota-kota ini adalah sedang musimnya duren di ketiga kota ini. Dan tentu ini merupakan kesempatan yang tidak saya lewatkan untuk mencicipi citarasa durian lokal.



Tentu banyak yang berpikir, durian rasanya ya sama saja di mana-mana. Tapi justru inilah fakta unik yang saya temukan: durian itu beda kota beda rasanya. Maka itu saya lebih menyukai durian asli Indonesia karena rasanya yang bervariasi, tidak seperti durian monthong ala Bangkok yang rasanya selalu setali tiga uang, hilang sudah unsur kejutannya.



To quote the Forrest Gump movie, Indonesian durian is “like a box of chocolate, you don’t know what you will get”.

Nah setelah mencicipi durian di beberapa kota di Sumatera, termasuk Lampung beberapa bulan sebelum ini, berikut hasil pencitraan rasa saya, dimulai dari peringkat bawah:



Durian Lampung
Durian Lampung saya beli langsung dari belakang mobil pickup penjualnya. Dengan harga 50 ribu untuk 3 butir yang besar, cukup murah sebenarnya. Dagingnya tebal dan berwarna pucat serta bertekstur kering. Rasanya agak kurang manis bila dibandingkan durian lainnya. Namun tetap berkesan karena saya mencicipinya di tepi danau Ranau yang luas.



Durian Palembang
Memang saat itu sedang tepat awal musim durian, sehingga Pasar Kuto yang malam itu kami kunjungi ramai dengan pembeli juga penjual yang menjajakan durian yang baru saja diturunkan dari truk. Dengan harga 15 ribu per butir ukuran sedang, tekstur dagingnya tebal dan basah. Rasanya sangat manis dengan kadar alkohol tinggi. Makan sedikit saja atau kepala bisa melayang.



Durian Medan
Durian favorit saya yang kedua, di mana lagi belinya kalau bukan di Ucok. Sulit mengalahkan harumnya durian Medan serta warna dagingnya yang kuning keemasan. Dagingnya tebal dan bertekstur basah. Rasanya pun manis. Harganya memang lebih mahal dibandingkan durian di kota lainnya, tapi saya tidak pernah kecewa dengan pelayanannya.



Durian Jambi
Durian di kota Jambi berhasil menggeser si primadona durian Medan! Baru saya cicipi tadi malam di daerah Sipin di mana penjualnya membuka kedai-kedai di pinggir jalan. Dengan harganya yang sangat murah, 2 butir ukuran kecil 25 ribu saja. Eh tapi jangan salah, walaupun ukuran kecil, isinya sangat padat. Saya hitung kelima sisirnya penuh dengan biji durian. Makan satu buah saja pasti kenyang! Dagingnya memang tidak setebal durian Medan dan warnanya pun pucat. Teksturnya kering. Namun intensitas keharuman dan kemanisannya sangat pas. Harumnya menggoda selera namun tidak menyengat. Manisnya pun dibumbui dengan sedikit getir sehingga membuat tidak enek. Kadar alkohol pun tidak terlalu tinggi. Orang-orang sini biasa makannya dengan lemang, namun karena saya baru makan malam udang goreng, sudah tidak cukup lagi menampung. Durian Jambi nomor satu pokoknya!

No comments:

Post a Comment