Saturday, September 22, 2012

Each Travel Starts with A Step

At least for me, it starts with a taxi ride.
Tak usahlah saya berkeluh kesah bahwa diperlukan waktu 3 jam untuk menembus kemacetan di dua kota, Bogor dan Jakarta. Cerita lama. Basi. Kenapa juga saya malam minggu gini berkencan dengan petugas bandara? Well, that’s a different story.



Sekarang cerita saya dimulai dengan Pak Sapardi. Perjalanan, atau lebih tepatnya, perjuangan menuju bandara terasa lebih pendek karena saya didongengi oleh pengemudi taksi Blue Bird ini mengenai perjalanan hidupnya yang patut diacungi jempol.

Pak Sapardi baru 5 bulan mengemudikan taksi berlambang biru ini. Pada akhir tahun kemarin, perusahaan agribisnis tempat Pak Sapardi bekerja bankrut karena ulah anak pemilik perusahaan yang menggunakan modal perusahaan untuk off-shore investment yang gak jelas. Investasinya gagal, perusahaan pun gulung tikar. Padahal, Pak Sapardi terakhir menjabat sebagai kepala cabang setelah 15 tahun meniti karir di sana. Pekerjaan yang dulu membawanya keliling Indonesia membantu para peternak meningkatkan produksinya. Gaji waktu itupun tergolong besar, di atas 15 juta, ditambah fasilitas lain seperti rumah dan kendaraan.



Setelah perusahaan ditutup, Pak Sapardi berjuang mencari sumber penghasilan yang lain. Mencoba melamar pekerjaan sana-sini, dengan usia sudah mendekati kepala empat, Pak Sapardi sulit mencari pekerjaan yang sesuai umur dan kualifikasi beliau. Semua lowongan untuk manajer mensyaratkan umur di bawah 35 tahun sedangkan pengalaman Pak Sapardi terlalu dalam untuk masuk ke level staf. Apa daya, istri dan 2 anaknya perlu dinafkahi, maka Pak Sapardi pun terpaksa terjun ke balik setir mobil. Apapun pekerjaannya yang penting halal, begitu katanya.



Baru lima bulan bekerja, karena bekerja cerdas, Pak Sapardi salah satu karyawan yang berperforma baik sehingga dibekali oleh alat komunikasi dan GPS. Cerita pengalamannya pun banyak, mulai mobil ditabrak motor sehingga penumpang wanita cantik yang kabur tanpa membayar. Eh ini bukan saya lho!



Beliau bercerita bahwa sewaktu masih di perusahaan yang dulu, dia juga sering traveling mengunjungi sales areanya. Kini dunia dia hanya seputar jalanan ibukota. Penghasilan pun hampir tak sepersepuluh gajinya yang dulu. Tak ada yang dia sesali, yang penting anak istri terjamin. Toh uang pesangon berhasil ia tanamkan di beberapa usaha sehingga masih ada buffer.



Dia pun bersemangat untuk mencari peluang pekerjaan lain karena dia merasa memiliki ilmu yang bisa membantu masyarakat. Dia sempat melamar ke perusahaan agribisnis unggas besar yang namanya mirip orang Thailand. Lagi-lagi dia terbentur di masalah usia dan standar gaji. Dia terlalu berpengalaman untuk dipekerjakan sebagai staf, dan perusahaan tidak tega membayar dia selevel itu. Tetapi untunglah masih ada peluang. Perusahaan ini akan membuka cabang untuk kawasan Indonesia Timur akhir tahun ini dan akan mempertimbangkan Pak Sapardi sebagai kepala cabang. Kini, sambil berdedikasi dengan perjalanannya yang sekarang, Pak Sapardi pun menunggu dengan sabar kabar dari perusahaan tersebut.



Sebenarnya dengan koneksi yang dia miliki di industri agribisnis, mudah saja dia menghubungi kliennya dan meminta pekerjaan. Namun satu kata yang mencegah dia melakukan hal ini: ego. Dia ingin berusaha dengan kemampuannya dahulu sebelum meminta bantuan orang lain yang merupakan jalan terakhir.



Nilai kemandirian ini juga yang diajarkan ayah saya selalu. Tak pernah ayah mau memanfaatkan koneksinya untuk kepentingan anak-anak. Kami semua harus berusaha sendiri. Bila iya sekali dua kalipun, rasanya pasti untuk penelusuran ilmiah. Misal ketika ayah mengajak saya bertemu dengan rekannya yang seorang entomologis untuk membantu saya menyelesaikan tugas IPA sewaktu SD.



Ada pelajaran lain yang saya bisa ambil dari Pak Sapardi. Bahwa hidup adalah roda, tidak tahu kapan kita meranjak atau bergulir. Setiap prosesnya harus disyukuri. Tuhan menguji kita karena kita dianggap mampu menghadapinya dengan tersenyum. Kata-kata ajaibnya: jalani saja dan nikmati pemandangan yang ada!



Ditulis di Bandara Sultan Hasanudin Makassar, jam 2 pagi, menunggu pesawat lanjutan ke Manokwari.

No comments:

Post a Comment