Mungkin karena saya dibesarkan oleh anak seorang tentara, saya menyukai hal-hal yang terkait dengan sejarah peperangan. Saya ingat ketika menemani ayah mengendarai mobil dari Bandung pulang ke Bogor, sementara Ibu dan adik saya tertidur di kursi belakang, ayah menceritakan panjang lebar sejarah perang jaman Belanda, mulai agresi militer I hingga agresi militer II, yang beliau hapal di luar kepala! Padahal saya hanya mengemukakan pertanyaan, apakah kakek saya pernah terlibat peperangan? My dad being my dad, pertanyaan sederhana dijawabnya dengan orasi panjang. Kecintaan terhadap sejarah ini bahkan menular pada Omar, keponakan saya, yang sangat suka menonton film perang sejak umurnya 3-4 tahun!
Alasan inilah yang membuat saya sangat tertarik untuk mengunjungi monumen MacArthur di gunung Ifar Sentani. Selain menyajikan pemandangan indah danau Sentani dari atas bukit, lokasi ini mempunyai nilai sejarah yang penting di dalam Perang Dunia Kedua.
MacArthur adalah nama jenderal pemimpin pasukan sekutu di perang Pasifik Barat Daya sewaktu PD II melawan Jepang. Pada tahun 1944 Jenderal Douglas MacArthur berhasil mengusir tentara Jepang dari Kepulauan Solomon dan sebagian besar PNG. Sasaran selanjutnya adalah merebut Nederlands Nieuw Guinea, yang sekarang merupakan propinsi Papua, sebagai batu loncatan untuk merebut kembali Filipina yang terampas dari Amerika. Dalam usaha merebut Hollandia, nama kabupaten Jayapura kala itu, pasukan sekutu merancang strategi serangan masuk melalui dua teluk yang dalam di Hollandia untuk kemudian dijadikan pangkalan AL sekutu, yaitu Teluk Tanah Merah dan Teluk Humboldt/Teluk Yos Sudarso. Jarak antara kedua teluk itu adalah sekitar 40 kilometer dan sulit ditempuh karena medan yang berbukit-bukit dan melewati hutan belantara serta rawa-rawa. Zaman sekarang saja membutuhkan waku 4 jam jalan darat dengan mobil dari Jayapura yang terletak di teluk Humboldt ke Teluk Tanah Merah, apalagi zaman dulu. Di antara kedua teluk tersebut juga terdapat dataran Sentani yang strategis di mana terdapat tiga landasan yang dikuasai tentara Jepang. Divisi infantri 24 pasukan sekutu akan mendarat di teluk Tanah Merah dan mencoba merebut Sentani dari arah timur, sedangkan Divisi infantri 41 akan mendarat di teluk Humboldt dan mencoba merebut Sentani dari arah barat. Komandan Angkatan Darat Jepang sendiri telah salah memprediksi lokasi pendaratan pasukan Amerika, sehingga malah menempatkan mayoritas pasukan tempurnya di Wewak PNG, 725 km di timur Hollandia.
Long story kept short, setelah perjuangan menembus medan sulit dan peperangan berhari-hari, pasukan sekutu berhasil merebut Sentani dan Hollandia dari tangan Jepang dan lalu dijadikan pangkalan udara dan laut terbesar AS di Pasifik dan menjadi basis yang amat penting dalam perebutan kembali Filipina dari tangan Jepang. Di gunung Ifar Sentani, Jenderal MacArthur memerintahkan pasukannya untuk mendirikan barak-barak sebagai markas besar pasukan sekutu. Konon, puncak bukit tempat monumennya sekarang berdiri adalah tempat yang dulu sering diduduki Jenderal MacArthur untuk memikirkan strategi untuk memenangkan perang di Pasifik sambil melihat pemandangan Danau Sentani. Konon katanya juga, pulau-pulau kecil yang ada di Danau Sentani menginspirasi strategi lompat pulau (island hopping) MacArthur yang terkenal.
Strategi island-hopping, atau nama lainnya leapfrogging, adalah strategi yang sering dipakai tentara Sekutu dalam peperangan di Pasifik. Strategi ini memusatkan serangan untuk menduduki pulau-pulau penting di kepulauan Pasifik yang tidak dijaga ketat oleh Jepang. Dengan demikian, gerakan pasukan Sekutu akan lebih sulit diprediksi dan akan lebih efektif dalam menyerang kepulauan Jepang. Strategi ini dinilai jauh lebih pamungkas daripada menggunakan sumber daya pasukan Sekutu yang terbatas untuk merebut semua pulau yang memang dikuasai ketat oleh Jepang. Island hopping dapat dilakukan karena pasukan Sekutu menggunakan kapal selam dan serangan udara untuk memblokir akses dan jalur transportasi tentara Jepang sehingga tidak mampu memasok suplai dan bantuan. Pasukan Jepang yang terisolir di pulau-pulau markas menjadi tidak mampu ikut berperang.
Sebagian informasi di atas saya dapati di pusat informasi di lokasi monumen MacArthur di Sentani. Kita masih bisa melihat pemandangan danau Sentani yang luas dan indah dari sini. Bandara Sentani, yang merupakan satu-satunya bandara peninggalan zaman perang yang tersisa, terletak tepat di kaki bukit di depannya sehingga kita bisa menyaksikan aksi pesawat udara mendarat dan tinggal landas. Markas besar pasukan sekutu kini sudah ditransformasikan menjadi kamp pelatihan militer Angkatan Darat Komando Distrik Militer Sentani. Alan bercerita bahwa salah satu metode penggemblengan tentara di sini adalah membawa batu besar di punggung selain tas ransum yang berat untuk menaiki pegunungan Cyclops sampai ke danau luas lain yang terletak di balik pegunungan tersebut. Waktu Jayapura dilanda gempa awal tahun ini, danau ini bergolak dan hampir meluap ke dataran Sentani. Bila terjadi, dapat membanjiri hingga ke kota Jayapura!
Sedikit mengenai danau Sentani, danau ini berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops dengan luas danau sekitar 245.000 hektar, menempatkan danau ini sebagai yang terbesar di Papua dan kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Di danau ini terdapat 22 pulau kecil di mana terdapat kampung-kampung tempat tinggal suku Sentani asli. Mereka membangun rumah panggung di atas danau di pinggir pulau serta memiliki setidaknya satu buah perahu yang mereka gunakan untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian utama sebagai nelayan. Danau yang dalam ini, mencapai 20-30 depa, atau sekitar 300 - 400 meter, sehingga menjadi habitat yang subur bagi berbagai macam ikan perairan tawar seperti ikan mujair, ikan lele, dan ikan merah. Di sudut-sudut danau yang sepi pun, terutama di daerah rawa, terdengar kabar ada buaya bersemayam, beberapa berukuran sebesar perahu dan pernah menelan korban. Untunglah buaya ini takut dengan suara perahu sehingga tidak terlalu mengusik kehidupan warga.
Perahu tradisional yang dimiliki warga umumnya dibuat dengan tangan sendiri dengan melubangi batang kayu matoa yang kuat. Selain untuk mencari ikan, perahu juga digunakan untuk transportasi warga untuk ke pulau-pulau lain misalnya untuk bersekolah atau menjual hasil tangkapan di pasar. Sekolah dan puskesmas sudah ada di beberapa pulau ini. Gereja malah ada hampir di setiap pulau.
Sebelum terbang pulang, kami sempat menyewa motor boat untuk berkeliling danau Sentani dan berputar di antara pulau-pulaunya. Dengan tarif 200 ribu saja, sang motoris yang asli suku Sentani, Pak Samsokoi, siap mengantarkan kami. Matahari terik namun angin yang menerpa menghilangkan tajamnya sinar matahari. Air danau yang kehijauan berbuih putih diterpa laju perahu. Di horison, pegunungan Cyclops menjulang tinggi, awan-awan kapas menggelayut rendah di puncaknya. Di kaki gunung, bukit-bukit hijau bergelombang hingga hilang ditelan danau. Permukaan danau sangat tenang sehingga mencerminkan lanskap dan langit biru di atas Danau Sentani.
Bila sebelumnya kami berada di atas MacArthur untuk melihat danau Sentani, kini kami bisa melihat puncak itu dari permukaan danau.
Just wondering, ayah memang sering ke Papua, tentu logis bila pernah mengunjungi Danau Sentani karena profesinya sebagai seorang limnologis, tetapi apakah pernah ke monumen MacArthur ini juga ya?
Anyway, ini catatan perjalanan saya yang terakhir di Papua kali ini. Propinsi yang paling timur di Indonesia ini memang menyimpan banyak keindahan alam yang masih liar, baik laut, danau atau gunungnya, yang belum banyak disadari orang. Memang mungkin sebaiknya begini saja, karena agar tanah Papua tetap lestari.
No comments:
Post a Comment