Pagi itu saya terbangun lebih dahulu dari jam alarm yang dipasang malam sebelumnya. Kedua teman seperjalanan saya masih diam tak bergeming terlelap dalam tidurnya. Entah kenapa, saya sulit sekali untuk bergabung bersama mereka kembali ke alam mimpi.
Saya pun pergi ke luar untuk menyaksikan matahari terbit di gugusan kepulauan Raja Ampat ini. Saya duduk sendiri di dermaga kayu yang menjorok panjang ke tengah laut dan menikmati saat-saat dunia terbangun dari tidurnya.
Perlahan-lahan matahari mulai merayap naik dari balik awan, menyemburatkan cahaya merah dan jingga ke angkasa. Suara burung hutan menyanyi sahut menyahut dengan lenguhan kuskus memanggil pasangannya. Angin tenang sehingga ombak berkecipuk dengan anggun. Dunia dalam keadaan damai di sini.
Kedamaian itu membuat saya lupa waktu. Teman saya memanggil dari tepi pantai untuk menyuruh saya bersiap-siap. Ya, hari itu kami akan naik kapal mengunjungi beberapa pulau di sekitar pulau Waigeo sebelum kami kembali ke Sorong dengan naik kapal ekspress di Waisai.
Jam 8 tepat kapal siap berangkat, bekal sarapan kami sudah ditempatkan dengan rapi di boks. Kapal meluncur dengan cepat meninggalkan pesisir pantai Waiwo.
Awan putih dan langit biru menyempurnakan pemandangan lanskap pulau-pulau yang kami lewati. Hari ini kami akan menuju Teluk Kabui yang sering disebut Wayag kecil dan Pulau Mansuar dengan pulau pasirnya yang indah.
Perjalanan sekitar 20 menit sama sekali tidak terasa karena kami disuguhkan dengan keindahan Raja Ampat, yang sesungguhnya sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Breath-taking mungkin kata yang paling mendekati kebenaran.
Tiba di teluk Kabui, kami menyandarkan kapal di pulau bertebing karang terjal tak bernama yang dikelilingi laut biru terang. Oom Berardus, motoris kami hari itu, mengajak kami naik ke atas tebing untuk melihat pemandangan. Cukup sulit memanjat, apalagi bagi saya yang tidak lincah ini, karena tebing berupa dinding karang tajam dan terjal. Perlahan namun pasti saya merayap naik, menghiraukan beberapa luka di kaki karena terkena sayatan karang tajam. Pengorbanan itu langsung terobati. Gugusan kecil pulau-pulau karang dengan gerombolan pohon-pohon yang tumbuh di tebingnya terlihat dari atas. Laut biru memisahkan pulau-pulau tersebut, saking jernihnya kami masih dapat melihat ikan-ikan di dalamnya. Matahari pagi bersinar hangat dan laut gemilang kebiruan. Inilah yang disebut mirip dengan pemandangan di Wayag. Di sini saja sudah begitu indahnya, apalagi di Wayag sana.
Oom Berardus menantang kami untuk melompat dari tebing ke laut di bawah. Saya tentu menolak, tapi Dimas menyambut tantangan tersebut padahal jarak ke bawah cukup jauh. Hup, melompatlah dia sambil berteriak ala Tarzan dan terjun ke dalam air. Dari atas terlihat ada gerombolan ikan saku yang panjang-panjang mendekat, segeralah Dimas menyingkir ke tebing karang sebelah, ketakutan sendiri hahahahahaha….. Setelah kami turun ke kapal, yang merupakan suntikan adrenalin sendiri, dan menyelamatkan Dimas, kami beranjak ke spot berikutnya.
Oom Berardus memberi tahu kami tentang suatu pulau yang memiliki gua. Membayangkan seperti gua di Green Canyon, ternyata gua yang dimaksud adalah lubang di bawah tebing suatu pulau, jalan untuk memasukinya harus melalui laut. Lubang terlalu pendek untuk dilalui kapal sehingga kami harus turun ke laut di depan lubang gua tersebut, menginjakkan kaki ke atas karang-karang mati. Begitu saya melangkah masuk, saya terkejut dengan luasnya gua di dalam. Burung-burung walet terbang hilir mudik ke sarangnya di antara stalagtit-stalagtit. Yang lebih menakjubkan adalah bahwa gua ini di bagian belakang membuka ke arah dalam pulau, sehingga saya bisa melihat pepohonan dan angkasa di sana. Bayangkan saja seperti gua-gua yang pernah dijelajahi oleh Lara Croft di film Tomb Raider. Sekali lagi, saya tidak lincah seperti Lara Croft, sehingga harus menggunakan tongkat untuk naik ke atas bukit yang licin oleh lumut. Jadilah saya diberi julukan Lara Croft jompo! Sial! Tapi tak apalah, pelan-pelan naik ke atas bukit dari atas sini kita bisa melihat keindahan gua dengan pahatan batu-batuannya yang indah.
Tiba-tiba saya melihat sebentuk batu yang terpahat alam menjadi bentuk yang unik. Batu itu berbentuk lonjong ke atas, di bagian atasnya ada lekukan sehingga terlihat seperti menggunakan topi kecil. Di tengah-tengah topi, ada lubang kecil yang terbentuk dari tetesan air yang jatuh dari stalagtit di atasnya. Sekeras-kerasnya batu, bisa lunak juga oleh air yang terus-menerus menetes tanpa henti. Bisa tebak nggak, bentuk batunya seperti apa? Ya, bentuk batu unik tersebut menyerupai alat kelamin pria! Hehehe saya jadi malu sendiri karena saya yang pertama menyadarinya.
Hari semakin siang sehingga kami harus beranjak ke pulau berikutnya untuk melakukan kegiatan yang saya tunggu-tunggu dari tadi, yaitu snorkeling. Kali ini, Odi, asisten Oom Berardus yang mengemudikan kapal. Kapal kemudian ditambatkan ke tebing suatu pulau, namun kami tak sendiri. Ada sebuah kapal lain yang tertambat, ternyata itu milik Papua Diving yang sedang mengantar orang menyelam. Oom Berardus mewanti-wanti agar kita menggunakan pelampung dan beristirahat dengan merebahkan diri ketika snorkeling. Kami dilarang menginjakkan kaki di karang karena karang-karang hidup di sini masih perawan sehingga mudah mati bila terusik. Mungkin inilah mengapa kawasan Raja Ampat sangat indah, karena warga dan pengelola resort di sini bahu-membahu menjaga kelestariannya.
Begitu saya meloncat turun, bawah laut menyajikan pemandangan terbaiknya. Sekelompok ikan-ikan berenang sangat dekat acuh tak acuh. Anak-anaknya berlarian di antara anemon-anemon hidup. Matahari menyinari sisik-sisik ikan yang beraneka warna, namun karang dan anemon tidak mau kalah dalam memamerkan warnanya. Gugusan karang di sini tidak luas, namun dalam. Karang-karang berundak-undak ke laut dalam, di setiap terasnya karang dan ikan hidup saling simbiosis. Bayangkan saja terasering di Ubud Bali yang terkenal itu, namun bukannya sawah dan padi, di sini justru penuh dengan biota laut! Dengan jarak pandang yang sangat jernih hingga ikan di laut dalam pun masih terlihat, ini menempatkan Raja Ampat sebagai spot snorkeling terbaik yang pernah saya kunjungi, menggeser kedudukan Gili Trawangan!
Sekali lagi kami harus berpacu dengan waktu, sehingga kami tidak punya waktu banyak untuk snorkeling. Padahal, jujur, baru sebentar sekali rasanya. Setelah naik ke atas kapal dan menikmati sarapan, kami meluncur ke spot terakhir, pulau Mansuar.
Pulau Mansuar terkenal karena di lepas pantainya ada pulau kecil yang terbentuk dari pasir putih, dan pasir putih saja, sehingga dinamai pulau pasir timbul. Benar saja, pulau kecil, yang mungkin hanya sebesar lapangan basket, semuanya terbuat dari pasir putih. Lautan biru tosca mengelilinginya, ombaknya berdebur pelan di tepian. Pasirnya hangat diterpa cahaya matahari siang. Pulau ini mengingatkan saya pada film Pirates of Carribean yang terakhir di mana Johnny Depp meninggalkan Penelope Cruz di pulau tak berpenghuni.
Sungguh Raja Ampat adalah surga di dunia, membuat saya enggan beranjak dari sana. Apa daya, waktu kami habis, kami harus segera kembali ke resort. Tiba di sana, saya dan Mas Fahmi snorkeling kembali di sekitar jetty untuk memanfaatkan waktu dengan maksimal. Ternyata banyak sekali ikan di bawah jetty. Ikan-ikan ini sangat jinak sehingga mereka berenang saja tak peduli dengan kami. Sayang kami harus meninggalkan mereka, karena kami harus segera naik dan membersihkan diri. Atos dan teman-temannya akan segera menjemput kami untuk mengantarkan ke pelabuhan Waisai.
Sepanjang perjalanan, Atos bercerita mengenai dirinya. Atos ternyata berasal dari Wakatobi, pergi ke Waisai mengadu nasib. Dia akan kembali ke kampungnya sekitar tahun 2014. Atos berkata, kalau saya ke Wakatobi, telepon saja dan dia siap menjadi guide. Wah harus direncanakan nih petualangan saya selanjutnya.
Kapal Marina Ekspress menarik jangkarnya dan berangkatlah kami kembali ke Sorong. Di dalam hati, saya mengucapkan kepada Raja Ampat: ini bukan selamat tinggal, hanya perpisahan sementara. Saya pasti akan kembali lagi ke Raja Ampat! Ikut yuk?
Ditulis di Mozes Kilangin International Airport di Timika, Papua, sambil menunggu penerbangan lanjutan ke Jayapura. Airport ini jauh lebih bagus dan modern dibandingkan kedua bandara sebelumnya karena turut dibiayai oleh Freeport.
No comments:
Post a Comment