Mendung dan gerimis mengantarkan kami terbang dari Manokwari pagi itu, tapi untunglah matahari bersinar cukup terik di Sorong. Sedari kemarin, kami membicarakan apakah kami akan sempat ke Raja Ampat, dikarenakan kami hanya mempunyai waktu yang sempit di Sorong. Apalagi kami masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan.
Well, life is more interesting if we play it by ear.
Jadi, kami memutuskan untuk segera mengerjakan satu tugas, menaruh koper di hotel, membeli makan siang dan segera meluncur ke pelabuhan! Tak lupa kami meminta Rudy, supir kami di sini untuk menjemput keesokan harinya.
Dengan berbekal tiket kapal seharga IDR 120,000 per orang, kami segera menaiki kapal Marina Ekspress yang akan membawa kami ke Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat.
Kapal cepat ini akan membawa kami selama 2 jam untuk mencapai pelabuhan Waisai. Nomor tiket mendudukkan kami di dek bawah yang ber-AC. Tidak ada pemandangan keluar. Bahkan ketika kami menyantap makanan siang kami di sana, kami tidak sadar kapal sudah bergerak melaut. Bosan, kami mencari dek untuk melihat pemandangan di luar. Di dek yang terletak di lantai atas, ternyata sudah banyak orang. Kebanyakan orang lokal, tapi ada sepasang turis asing yang sedang menyusun itinerary.
Matahari terik dan di kejauhan awan putih bertumpuk-tumpuk seperti kapas. Angin kencang menerpa melambaikan bendera merah putih yang dipasang di belakang kapal. Cukup lama bertahan di dek, namun matahari yang terik membuat kami turun kembali berteduh, Waisai sebentar lagi kami hinggapi.
Saya sering membaca, bahwa yang menarik dalam melakukan perjalanan bukan saja tempat-tempat yang kita kunjungi, namun juga orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan tersebut. Di dek bawah, saya mengajak obrol seorang guru bahasa Inggris di suatu SMA negeri di pulau Misool. Pak Suwandi namanya. Dia menyeberang ke Waisai karena ada urusan pekerjaan di dinas. Saya membicarakan mengenai pekerjaan yang terkait dengan pendidikan sembari bertanya-tanya mengenai Raja Ampat, sedangkan beliau bercerita tentang kehidupannya yang sepi di Misool. Saya mengeluhkan susahnya mencari siswa Papua yang berkomitmen dengan pendidikan dan mau bekerja keras. Ada kalimat pendek yang membuat saya terhenyak ketika Pak Suwandi mengemukakan alasannya, “Karena mereka dimanjakan dengan kekayaan alam Papua. ” Benar juga, untuk makan dan kebutuhan hidup lainnya, mereka tinggal mengambil di hutan, bukan?
Kami juga diajak bicara oleh dua gadis lokal yang akan berwisata di Waisai. Mereka menyebutkan suatu cottage di Waiwo yang tepat untuk melakukan snorkeling. Langsung dengan antusias kami bertanya lebih lanjut. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang bertanya, “Mau ke Waiwo, Mbak?”. “Iya sepertinya!”, saya menjawab dan segera mengajak berkenalan. Pemuda yang bernama Dimas itu memberikan informasi bahwa dia tahu dari temannya di Waiwo ada penginapan dengan tarif 450 ribu per orang termasuk makan 3 kali. Dia juga bilang bahwa dia juga hanya mencuri waktu ke Raja Ampat, karena harus balik ke Sorong keesokan harinya dengan kapal jam 2 siang. Wah, pas tuh! Kebetulan kami juga punya rencana yang sama. Segera saya mengajak Dimas bergabung dengan saya dan Mas Fahmi, hitung-hitung nambahin bodyguard hehehehe. Toh setelah bertanya latar belakangnya, sepertinya dia orang baik-baik. You can’t be too careful, can you?
Tiba di Waisai, mendung menggelayut, segeralah kami mencari ojek untuk menuju cottage di Waiwo tersebut. Dengan tarif 40 ribu per orang, Atos dan motornya siap mengantar saya ke lokasi melalui jalan beraspal yang melintasi kawasan hutan. Suara hutan menemani sepanjang perjalanan, bahkan saya melihat seekor burung kakaktua melintas. Di ujung turunan, tiba-tiba ojek saya berhenti. Di sisi kiri terlihat ada bukaan di hutan dengan jalur kayu yang menembusnya. Langsung saya waswas, wah mau dibawa ke mana saya? Untung ada 2 bodyguard, sehingga saya ikuti saja si Atos menembus hutan. Wah ternyata, di balik hutan ada cottage-cottage kayu tersembunyi. Jetty panjang menjorok ke tengah laut, menjanjikan pemandangan yang indah. Kami tiba di Waiwo Dive Resort!
Segera kami menyewa satu cottage dengab tarif 450 ribu per orang per malam. Tak apalah saya bergabung dengan para laki-laki, toh ada Mas Fahmi yang bisa dipercaya. Setelah berganti baju dan menyewa peralatan pelampung dan fin untuk snorkeling, segera kami beranjak ke jetty. Ada segerombolan tamu yang sedang memberi makan ikan. Banyak sekali ikan yang berkumpul, beraneka rupa bentuk dan warnanya. Yang paling cantik tentu si ikan kakaktua, sisiknya biru terang bersemburat kuning dan hijau elektrik. Tak sabar lagi bermain-main dengan ikan-ikan tersebut, saya segera masuk ke dalam air. Wah banyak sekali ikannya, hilir mudik di taman bawah laut. Lebih indah dari Gili! Tidak perlu lama-lama, saya menjumpai ikan saku yang panjang seperti pedang dan penyu yang berenang pelan. Eh, penyu itu kaget dan tiba-tiba meluncur cepat seperti torpedo. Baru tahu saya kalau dia bisa melakukan hal itu. Bahkan saya sempat melihat ikan buntal yang sedang mengambang dekat permukaan laut, tubuhnya kempes tidak merasa ada ancaman. Harus hati-hati juga kita snorkeling di sini bila tidak ingin bernasib sama seperti Steve Irwin, karena dekat pantai banyak ikan pari manta.
Hari sudah melewati senja dan laut semakin gelap. Saatnya kami naik dan membasuh diri lalu menikmati sajian makan malam yang sudah disiapkan. Seusai makan, kami bercengkerama dengan manajer hotel yang baru 3 minggu menempati posisinya. Asli ti bumi parahyangan, kang Arya mengajak istrinya untuk tinggal di sana. Dipikir-pikir bukankah itu hidup yang sempurna, bisa bangun pagi setiap hari di Raja Ampat? Sayang teh Lina, istrinya Kang Arya teh cewek mall, jadi belum sekalipun dia snorkeling di sini. Adalah keuntungan bercengkerama dengan orang lokal, kami berhasil mendapatkan harga sewa kapal murah untuk island hopping di besok ke pulau Kabui dan pulau Maswar, yang disebut Wayag mini. Yah, jarak yang terlalu jauh dan biaya sewa kapal yang mahal memang mengurunkan rencana untuk mengunjungi pulau Wayag, mahkota Raja Ampat itu. Tapi tak apalah, pulau yang akan kami kunjungi besok itu pun tak kalah indahnya!
Ditulis di jetty Waiwo Dive Resort di Raja Ampat, ditemani matahari terbit dan diiringi suara hewan-hewan hutan. What a life!
No comments:
Post a Comment