Sunday, September 23, 2012

Semalam Suntuk

Judul yang tepat untuk merangkum perjalanan saya ke timur Indonesia kali ini. Dimulai dengan penerbangan jam 9 malam ke Makassar, disambung dengan penerbangan ke tanah Papua jam 4 pagi WITA. Tiba di Sorong jam 9 pagi WIT untuk transit 20 menit sebelum lanjut ke Manokwari. Tiba di kota ini jam 10 pagi tadi dan langsung kerja agar bisa rileks di hotel pukul 3 sore ini. Padahal seharusnya saya masih di Bogor detik ini.



Nah lho, kok bisa? Ya, itu karena telepon yang saya terima jam 10 pagi Sabtu kemarin dari Batavia Air yang mengabarkan bahwa semua flight ke Manokwari dibatalkan mulai tanggal 23 September dengan tanggal 11 Oktober karena ada maintenance pesawat. HWARAKADAH! Saya harus sampai di Manokwari sebelum tanggal 25 atau semua itinerary yang saya susun kacau. Akan hanguslah pula semua tiket dan akomodasi yang setara dengan trip ke Eropa. Kalang-kabut saya mencari tiket alternatif. Dan apa mau dinyana, tiket yang tersedia hanyalah pesawat Garuda - Sriwijaya yang berangkat malam itu juga. Padahal siang itu saya masih di Cibubur. Teman seperjalanan saya lebih parah, Sabtu pagi itu dia baru tiba di Bandung untuk menghadiri acara pernikahan temannya. Berlombalah kami dengan waktu untuk mencapai rumah masing-masing, packing, lalu segera ngebut ke bandara. Alhamdulillah everything went well and here I am, in a small town in eastern Indonesia, thousand miles from home.



Ketika saya terlihat panik karena pembatalan pesawat, ibu saya bilang, “Mungkin ada hikmahnya. Daripada pesawatnya ada apa-apa dan bermasalah di udara”. Itu yang membuat saya tidak mau berlarut-larut dalam kekesalan. Toh saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk: enjoy the ride, whatever happens. Anyway, jelas hikmahnya adalah saya bisa menjelajah keindahan kota Manokwari lebih lama, ya kan?



Kota Manokwari terletak di pantai utara Daerah Kepala Burung Pulau Papua. Kota pesisir kecil yang dipunggungi oleh cagar alam tropis dengan hutannya yang lebat. Kota ini memang tidak setenar Sorong dengan Raja Ampatnya, tetapi tetap menyajikan keindahan dan keramahan khas Indonesia Timur.



Dari atas pesawat, sudah terlihat laut di pesisir Manokwari yang biru kehijauan. Pantai pasir putih mengintip dari sela-sela hutan bakau. Tak jauh dari pesisir perbukitan lebat menggelombang lembut. Turun dari pesawat hawa panas langsung menyekap, padahal langit mendung kala itu. Terlihat pembangunan bandara baru yang masih dalam tahap penyelesaian. Sepertinya akan sangat layak nantinya. Tetapi begitu saya melihat terminal kedatangan yang ada sekarang, saya langsung terbahak. Terminal kedatangan bandara Manokwari hanyalah sebangun gudang kayu dengan spanduk bertuliskan Selamat Datang di atas pintunya. Saya sempat sangsi, kenapa orang-orang menuju ke sana. Bukankah kita harus mengambil bagasi dulu? Dan saya lihat mereka hanya menggerombol saja di dalam ruangan itu. Telepon saya lalu berdering, Oom Onis supir saya di Manokwari sudah siap menjemput. Begitu kereta berisi bagasi pesawat didorong masuk ke ruangan, Oom Onis meminta kupon bagasi pesawat. Oalah, ternyata penyerahan bagasinya persis seperti pembagian sembako. Nomor bagasi akan disebutkan dan pemilik bagasi nomor tersebut dipersilakan maju mengambilnya. Koper pun lalu dilempar dari atas kereta. Suasana segera riuh rendah dengan orang-orang yang tak sabar menunggu nomor bagasinya dipanggil. Saya dan rekan segera menyingkir dan mendinginkan diri ke mobil. Begitu koper dimasukkan ke belakang mobil, pertualangan kami di Manokwari dimulai!



Ehm, sebenarnya kerja sih. Kami memutuskan untuk segera menyelesaikan tugas kami hari itu agar bisa mempunyai satu hari besok di Manokwari untuk menjelajah. Namun, hari ini kami sempat diajak Oom Onis ke atas bukit untuk melihat pemandangan teluk Cenderawasih yang indah. Dua pulau terlihat hanya selemparan batu dari pelabuhan. Pulau Lemon dan Pulau Mansinam. Dan ke sanalah besok kami berencana akan menyeberang dan melihat pasir putih dan laut biru. Can’t wait!

No comments:

Post a Comment