Entah karena kondisi badan yang sudah menurun atau karena sedih harus meninggalkan Raja Ampat, saya tidak terlalu semangat tiba di Jayapura, apalagi karena justru banyak pekerjaan yang harus dilakukan di sini.
Jayapura ternyata adalah kota yang tergolong besar dengan banyak gedung tinggi bahkan sudah ada beberapa mal di sini dengan rantai supermarketnya. Kotanya sendiri, yang terletak lebih dari satu jam perjalanan dari bandara Sentani, bertengger di dinding-dinding bukit di teluk Humboldt, atau nama lainnya, teluk Yos Sudarso. Tentu saja kontur tanah ini menjadikan jalan rayanya naik turun. Di sini tidak terasa seperti tanah Papua karena saya sering menjumpai wajah-wajah suku selain Papua di sini. Suku-suku pendatang didominasi oleh suku Makassar dan Manado, berasimilasi dalam dengan suku asli.
Selain itu, dibandingkan kota Manokwari dan Sorong yang lebih kecil, justru saya merasa kurang aman di ibukota propinsi ini. Alan, supir kami di kota ini, bercerita mengenai bagaimana kerasnya kehidupan di kota ini. “Keras” adalah istilah saya, karena Alan tidak pernah keluar Papua sehingga tidak bisa membandingkan dengan kehidupan di kota lain.
Kami harus lebih waspada di sini karena banyaknya suku-suku Wamena perantau yang datang ke kota meninggalkan hutan-hutan rimba di selatan Jayapura. Bukan bermaksud untuk menyudutkan suku Wamena, namun Alan bercerita banyaknya kejadian di mana suku Wamena mengusik kehidupan warga di sini.
Alkisah, ada seorang suku Wamena perantau yang mendatangi kebun salah seorang suku Sentani untuk meminta numpang tinggal di gubuk reyot di kebun tersebut. Setelah diperbolehkan, orang Wamena ini membangun gubuk tersebut menjadi pondok semi permanen dan lalu mengajak keluarganya pindah ke kebun itu. Menumpanglah mereka bertahun-tahun hingga beranak pinak. Ketika pemilik lahan mencoba meminta lahannya kembali, orang Wamena ini menolak dengan kasar karena merasa memiliki. Bahkan ketika pemilik berniat mengambil hasil kebun, ia diancam dengan parang. Perselisihan berujung di mana orang Sentani ini ditelpon oleh orang rumah ketika sedang bekerja, memintanya untuk segera pulang. Begitu sampai rumah, lemaslah dia melihat rumahnya sudah terlalap api dibakar oleh penghuni kebunnya. Peristiwa serupa sering terjadi sehingga mengusir suku Sentani dari gunung turun ke danau. Kalau ada pertikaian, suku Sentani tinggal menerjunkan diri ke tengah danau, karena orang Wamena tidak mampu berenang.
Ditambah lagi, bulan Mei yang lalu, seorang asing asal Jerman ditembak mati orang tak dikenal di pantai Tanjung Ria ketika sedang plesir di situ. Yang lebih seram adalah penembakan itu terjadi tanpa motif apapun! Justru kayak begini yang sulit dihindari. Peristiwa penembakan ini dengan berhasil menunda diselenggarakannya Raimuna Nasional Pramuka yang akan dihadiri oleh SBY hingga mundur beberapa bulan.
Jangankan mau merasa aman, di tempat plesiran pun banyak sekali pungutan liar. Tadinya kami akan mengunjungi pantai Pasir Enam untuk memandang lautan lepas Pasifik, tapi kami mengurunkan rencana ini karena pasti akan mahal! Pertama-tama, sepanjang jalan banyak preman-preman yang meminta uang lewat. Jumlahnya pun tidak boleh kurang dari 50 ribu. Kedua, sampai di pantai, pengunjung harus membayar 50 ribu per kepala dan 100 ribu per mobil per jam. Selain itu, duduk-duduk di bangku pantai pun harus membayar “uang sewa” 50 ribu per jam! Jangan-jangan bisa habis sejuta sendiri untuk pergi ke pantai di sini. Belum lagi kalau menolak bayar, parang yang bermain. Bagaimana wisata di sini mau maju kalau begini caranya?
Sekali lagi, saya tidak bermaksud menyudutkan suku tertentu, karena pasti berlaku mazas totem pro parte. Cerita-cerita di atas tidak adil kalau kita pakai untuk mendeskripsikan keseluruhan suku asal Wamena. Toh buktinya, salah satu kandidat potensial untuk program beasiswa yang saya kelola berasal dari Wamena.
Saya punya prinsip, before you judge anybody, you should put yourself in their shoes. Jadi, kalau kita melihat asal-usul orang Wamena, mungkin kita bisa sedikit memahami kelakuan mereka.
Pertama-tama, suku Wamena tinggal di dalam hutan lebat yang sulit diakses, mengucilkan mereka dari peradaban modern. Belum ada jalan raya yang menghubungkan kota Jayapura dengan kota Wamena. Selain berjalan menembus hutan, cara satu-satunya adalah melalui udara. Mereka mungkin menjadi tak terdidik bagaimana untuk beradaptasi dengan baik di kota. Mereka tidak tahu, dan tidak terbiasa, dengan nilai-nilai serta kebiasaan yang ada di kota.
Kedua, mereka menggantungkan kehidupan mereka terhadap hasil alam. Baik dengan memanen hasil hutan, ataupun dengan berbudidaya sayuran di hutan. Mereka merasa apa yang disediakan alam adalah hak mereka, dan tanah yang mereka kelola adalah miliki mereka. Founders, keepers, mungkin begitu istilahnya. Ini tentu saja bertentangan dengan nilai masyarakat modern yang sudah paham tentang hak milik di mata hukum.
Teori terakhir saya adalah karena orang Wamena sering tidak dipahami oleh orang lain, mereka menjadi terkucil dan merasa tidak diterima di kota. Ini tentu menimbulkan kegelisahan di mata orang-orang Wamena karena merasa dipandang sebelah mata. Justru karena merasa rendah diri, orang-orang ini menunjukkan taringnya dengan berperilaku agresif. Salah satu contoh, sempat ada peristiwa pembakaran rumah karena orang Wamena merasa terusik ketika pemilik rumah, yang juga orang Papua, menyetel lagu daerah yang kurang lebih berlirik “Orang Papua itu hitam-hitam dan jarang mandi.” Merasa tersindir, marahlah orang Wamena itu. Padahal kalo dipikir-pikir, semua orang Papua itu berkulit gelap bukan?
Yah, semua yang di atas ini hanya teori amatiran saya yang memang suka over-analyzing sesuatu, jadi bisa jadi salah. Yang jelas saya menjadi was-was kalau melihat orang Wamena. Mau tahu bagaimana membedakannya? Orang Wamena itu berkulit paling gelap dan berambut gimbal. Suka menggunakan topi rajut besar beraneka warna, mirip dengan rastafara, atau bahkan Bob Marley. Kaum perempuannya suka menggantungkan tas rajutan panjang di kepalanya. Raut wajah mereka pun berbeda dibandingkan dengan suku lainnya, karena lebih bulat dan besar, dan sedikit lebih primordial.
Pada intinya di mata saya kota Jayapura tidak jaya. Selain justru di sini saya sering merasakan mati lampu, Swisbell Hotel yang saya inapi tidak menyediakan wifi gratis sehingga mati kutulah saya! Jadi tak sabar pulang ke Jakarta raya.
No comments:
Post a Comment