Allah itu Maha Baik dan tahu apa yang terbaik buat umatnya. Betapa seringnya saya berucap dalam doa untuk memperoleh pekerjaan yang membuka mata dan membawa saya melihat dunia.
Dan Tuhan memilih untuk mengabulkan doa saya tersebut. Oh boy, how my job now takes me to places. Tempat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan saya datangi. Dan memang ini yang saya perlukan untuk mengatasi rasa kehilangan saya. Karena justru ketika sedang dalam perjalanan keliling Nusantara-lah saya merasa sangat dekat dengan sosok ayah. Walau sering kali hal ini membuat saya semakin merindukan beliau.
Allah memang bekerja dengan misterius, membawa kaki ini melangkah mengikuti jejak kaki ayah melalui cara yang berbeda. Ketika saya bercerita pada ibu saya bahwa saya akan menjelajahi Lampung untuk mencapai kota Liwa di Lampung Barat, ibu berkata bahwa Pap dulu pernah meneliti di Danau Ranau yang berjarak sekitar 30 km dari Liwa. Ayah saya bekerja sebagai peneliti LIPI di bidang keilmuan Limnologi, yaitu yang terkait dengan perikanan dan perairan darat seperti sungai dan danau. Tak heran saya bahwa ayah saya pernah ke Danau Ranau, karena danau ini adalah danau terluas kedua di Sumatera setelah Danau Toba, sehingga tentu ekosistemnya sangat menarik untuk diteliti dan dilestarikan.
Dan begitu saya tahu ayah saya pernah melangkahkan kaki di danau itu, saya tahu saya harus ke sana karena Danau Ranau menyimpan sosok Pap, walau sedikit. Berbagi memori dengan Pap membuat rasa rindu ini semakin terasa. Dapat saya bayangkan bila saja Pap ada dalam perjalanan ini, sepanjang jalan saya sudah ‘dikuliahi’ dengan berbagai macam pengetahuan ilmiah tentang tempat-tempat yang kami lewati. Justru kuliah-kuliah panjang yang seringkali menjadi debat ilmiah inilah yang saya sangat merasa kehilangan. Siapa pula sosok yang bisa menggantikan keeksentrikan ayah? Siapa lagi yang wawasannya seluas Pap?
Danau Ranau ternyata memang memukau. Danau luas di kaki Gunung Ranau di kawasan Lombok Seminung yang hijau dan kaya akan hasil pertanian. Terletak di antara perbatasan kecamatan Sukau di Lampung Barat dan kabupaten Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan, danau ini menempati areal seluas 126 km persegi. Jalan berkelok dari Liwa melintasi hutan lindung ditempuh dalam sekitar satu jam menyuguhkan pemandangan alami dan kawasan pertanian. Jalanan sudah mulus namun tetap menantang sehingga kami tetap perlu berhati-hati. Kami memutuskan untuk mengunjungi sisi danau di OKU karena wilayah yang lebih mudah dijangkau. Tebing di sisi kiri jalan dan turunan curam membawa kami ke kawasan wisata Danau Ranau. Di gerbang masuk kami membayar tiket masuk sebesar 20 ribu rupiah untuk 3 orang dan 1 mobil. Di kawasan ini kita bisa menikmati keindahan Danau Ranau di area Wisma Pupuk Sriwijaya (Pusri) yang, sedihnya, terbengkalai. Sewaktu kami tiba, tidak ada seorang pun tampak, bahkan tanda-tanda kehidupan pun nihil, kecuali beberapa ayam yang berkotek mencari makan di bawah cottage-cottage kosong. Warung-warung sepi tanpa penjual, apalagi pembeli. Padahal, pemandangannya benar-benar memukau. Turun ke bibir danau dengan pasir hitam dan bebatuan, kami disuguhkan dengan permukaan air yang tenang berkecipuk dengan gunung Ranau yang menjulang biru di kejauhan. Beberapa nelayan terlihat mengayuh sampan kecil dengan tenteram mencari ikan. Kami pun beranjak ke dermaga di mana tertambat dua perahu yang juga terbengkalai. Di dermaga terdapat anjungan beton yang menjorok ke tengah danau, menyajikan pesona indah Gunung dan Danau Ranau. Airnya jernih biru kehijauan, bahkan kita dapat melihat rumput-rumput dalam air.
Seorang nelayan mendekat dan saya lalu bertanya, “Apakah sudah dapat ikan, Pak?” Lelaki tua itupun menjawab, “Sudah, namun hanya sedikit”, sambil menarik jaringnya. Seorang bocah terlihat pula sedang menyelam membawa tombak untuk menangkap ikan. Lama juga dia bisa menahan napas dalam air. Beberapa ikan kecil tertambat di tali pinggangnya. Tidak banyak orang yang mencari ikan siang itu, padahal untuk ukuran danau seluas itu, perikanan seharusnya subur dan makmur.
* Info dari Wikipedia, perikanan di danau ini memang mengalami penurunan drastis karena pelepasan belerang H2S yang mematikan ikan-ikan di sana. Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. I just know that this is something that my Dad would tell me himself if only he were here.
Kami duduk-duduk di dermaga mencelupkan kaki di air danau yang sejuk sambil menikmati sinar matahari yang hangat dan memanjakan mata dengan pemandangan yang menenteramkan hati. Selain para nelayan, hanya ada kami siang itu. Mewah sekali rasanya memiliki keindahan itu seorang diri. Hanya duduk diam saja dan merenung, pikiran berat tertiup angin semilir membawa kedamaian di hati.
Bagi pencinta wisata yang ramai dikunjungi, mungkin tempat ini menjadi tidak cocok. Namun saya berwisata lebih untuk mencari kedamaian, hingga Danau Ranau membuat saya kerasan berlama-lama memandangi permukaan danau yang tenang dan gunung yang perkasa.
Matahari merendah ke ufuk barat. Tak terasa dua jam kami di sini, dengan timbulnya suatu kesadaran baru. Alangkah indahnya alam Indonesia ini, bila saja dimanfaatkan dan dikelola dengan baik potensinya, ekonomi akan lebih menggeliat. Saya terpikir suatu ide untuk pemerintah mengadakan Tour de Ranau, etape perlombaan sepeda yang melintasi kawasan Lombok Seminung dan berakhir di Danau Ranau ini. Kalau Sumatera Barat bisa sukses mengadakan Tour de Singkarak, kenapa Lampung Barat tidak bisa? Ah tapi kalau Danau Ranau ini menjadi ramai, hilang sudah kedamaiannya. Sayang, bukan?
Danau Ranau, terima kasih telah membagi sedikit kenanganmu tentang ayah. Mudah-mudahan di masa depan, kita bisa bersua lagi.
No comments:
Post a Comment