Apa yang kita bisa lakukan di Manokwari bila punya 1 hari penuh? Itu yang kami tanyakan kepada Oom Onis, supir kami, ketika kami mengetahui kami mempunyai satu hari bebas untuk menjelajah Manokwari setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan sehari sebelumnya.
Oom Onis mengusulkan dua hal, ke pantai Bakaro di pagi hari, lalu setelah makan siang menyeberang ke pulau Mansinam. “SIAPP!!”, dengan antusias kami berkata menyetujui rencana itu.
Maka, setelah sarapan di hotel, segeralah kami berangkat memulai hari yang menyenangkan itu. Perjalanan ke pantai Bakaro dimulai dengan menaiki bukit melalui jalan Gunung Salju Amban lalu belok ke kanan menembus hutan yang juga dijadikan arboretum atau hutan percobaan mahasiswa Universitas Negeri Papua. Jalanan mulus walaupun tidak terlalu lebar. Kami melewati beberapa rumah penduduk asli yang berupa rumah panggung dari kayu. Sebangun gereja berdiri di atas bukit memandang teluk Cenderawasih, entah kenapa mengingatkan saya pada panti asuhan yang ada di serial Candy-candy.
Jalan lalu bercabang ke kiri di mana lubang-lubang mulai menghiasi jalanan dan rerimbunan semak semakin memakan jalan. Kami berhenti di lapangan kecil yang teduh di tengah pemukiman penduduk, lautan biru mengintip dari sela pepohonan.
Begitu kami berjalan keluar bayangan pepohonan kelapa, saya terdiam terpukau. And I’m literally smiling ear to ear. Ombak kecil menggoda lembut pantai kecil berpasir putih, dilatarbelakangi deretan pohon kelapa. Perahu kecil milik nelayan tertambat tidak jauh dari pantai. Langit biru dan matahari memancar cukup terik. My kind of heaven. Picture perfect.
Hanya kami bertiga di pantai Bakaro pagi hari itu. Mungkin karena hari Senin. Padahal pantai Bakaro sebenarnya objek wisata yang cukup dikenal masyarakat. Bukan pantainya yang indah yang menjadikannya terkenal, tapi adanya tradisi memanggil ikan yang dilakukan warga setempat. Mereka akan mengeluarkan suara siulan melalui suatu alat peluit untuk memanggil ikan dari tengah laut ke pinggir pantai lalu diberi makan telur rayap. Bukan untuk ditangkap, karena masyarakat setempat melarang menangkap ikan-ikan ini, hanya boleh di laut lepas.
Kalau dipikir-pikir, tradisi ini mungkin adalah sebentuk kearifan lokal. Dengan kebiasaan ini, ikan-ikan akan senang datang ke tepi pantai dengan karang-karangnya yang tepat untuk mencari makan dan berkembang biak. Serta larangan tetua warga untuk menangkap ikan dari tepi pantai menyediakan waktu bagi ikan-ikan ini untuk tumbuh besar. Ketika ikan-ikan ini sudah besar, mereka akan pergi ke perairan yang lebih dalam. Kalau memang nasibnya, mereka bisa ditangkap oleh nelayan. Mereka yang beruntung akan memiliki kesempatan beranak pinak, dan siklus hidup pun terulang kembali. Makes sense, right? Memang sesungguhnya ada hikmah dari semua yang diajarkan leluhur kita.
Sayang siang itu warga sedang kehabisan telur rayap, sehingga kami tidak bisa menyaksikan mereka melakukan tradisi itu. Tak kehabisan akal, kami teringat kami membawa sebungkus biskuit malkist dan mencoba peruntungan kami siang itu. Potongan biskuit kami hancurkan lalu kami tebar dari pinggir karang yang menjorok ke laut. Pada awalnya, hanya anak-anak ikan kecil yang menyambar remah-remah biskuit itu. Tapi tak lama, ikan-ikan yang lebih besar mulai berdatangan. Seru sekali mereka berebut makanan. Ternyata selama ini mereka bersembunyi di bawah-bawah karang! Tak terasa siang semakin terik ketika kami asyik menyaksikan ulah ikan-ikan tersebut. Kami pun tak sadar kami kedatangan tamu. Kini giliran anak manusia yang kamu asyik ajak main. Kami ditemani 3 anak mungil berpakaian SD yang sedang menghabiskan jam rehat sekolah. Sungguh beruntung sekali mereka, jam bebas sekolah bisa main ke pantai. Leo dan teman-temannya baru kelas 1 SD, sungguh mungil dan menggemaskan sekali mereka. Oh ya, orang-orang Timur ini mungkin terlihat sangar dengan kulitnya yang gelap dan badannya yang besar, tapi menurut saya mata dan senyuman mereka begitu indah!
Matahari beranjak ke puncak kepala dan kami pun mulai lapar. Walaupun kami sedikit enggan meninggalkan surga yang tersembunyi ini, petualangan kami selanjutnya pasti lebih menarik.
Di kota kami berputar sejenak mencari toko olahraga untuk membeli alat snorkeling. Laut biru akuamarin di pantai tadi seperti memanggil-manggil kami untuk mengintip kehidupan di dalamnya. Untunglah kami menemukan dua set alat snorkeling dengan harga standar. Sebenarnya saya sudah rencana beli sebelumnya di Jakarta tapi rencana yang mendadak berubah membuyarkan segala persiapan.
Perut mulai keroncongan dan Oom Onis menawarkan pilihan rumah makan yang menyajikan makanan khas Jakarta dengan prasmanan. Hah, jauh-jauh ke Papua kok makan makanan Jakarta. Saya dan Mas Fahmi pandang-pandangan, dan sepertinya membaca pikiran masing-masing. Kita kembali ke warung ikan bakar kemarin! Hehehe, untunglah kami satu selera. Kelezatan ikan yang kami makan kemarin membuat kami tak bosan untuk mencicipinya lagi. Dan kini tak tanggung-tanggung, kami memesan beberapa jenis ikan untuk dibakar dan dilahap dengan lalap, sambal dan nasi panas. Pilihan kami jatuh ke ikan kakap merah, ikan kerapu dan ikan baronang, yang bahasa lokalnya adalah ikan samandar. Mau tahu siapa pemenangnya? Ikan kakap merah! Dagingnya yang manis berpadu sempurna dengan kegurihan kulit yang sedikit hangus terbakar. Padahal tidak dibumbui macam-macam lho! Hanya garam, bawang merah, bawang putih dan direndam di air perasan lemon. Sedap sekali rasanya. Ikan-ikan yang lain cukup enak sih. Daging ikan baronang terasa sedikit lebih hambar sedangkan daging ikan kerapu lebih lembut, namun rasa lautnya cukup kuat. Ikan-ikan ini terasa jauh lebih nikmat karena memang sangat segar. Kalau di Jakarta, ikan-ikan yang disajikan sudah mati beberapa kali sehingga kehilangan rasa alaminya.
Perut kenyang, peralatan sudah lengkap, kami pun beranjak ke tepi pelabuhan. Kami berencana akan menggunakan ojek kapal untuk menyeberang ke pulau Mansinam. Ternyata baru kami penumpang yang datang, dan dengan tarif lima ribu rupiah sekali jalan, kami masih harus menunggu lama untuk memenuhi kuota 15 penumpang. Tapi ternyata ada senangnya bepergian dengan rekan yang tidak pelit untuk urusan duit. Saya dan Mas Fahmi setuju untuk berpatungan menyewa perahu tanpa menunggu kuota penuh. Harga seratus lima puluh ribu untuk perjalanan pulang-pergi langsung kami setujui. Pemilik perahu berjanji akan menjemput kami di sore harinya.
Penyeberangan dengan perahu terasa sangat menyenangkan. Semakin ke tengah laut, warna laut berubah. Bermula dari biru kehijauan yang transparan, biru tosca, biru bulao, hingga biru gelap. Semuanya lebih biru dari semua warna air laut yang pernah saya lihat. Angin semilir membuat saya lupa atas sinar matahari yang terik memancar. Tak lama, hanya sekitar 10 menit, kami tiba di pulau Mansinam. Begitu loncat dari perahu, kaki saya langsung terbenam dalam. Ternyata pasir putihnya begitu halus, sangat lembut seperti bedak bayi!
Tak hanya kami yang turun, ada dua orang pemuda turut. Awalnya kami kira mereka adalah awak perahu, ternyata mereka adalah pemuda Manokwari yang akan memancing, atau molo-molo, di pulau. Ketika kami bertanya di mana spot snorkeling yang bagus di pulau ini, mereka mengajak kami ke tempat mereka biasa molo-molo di mana banyak ikan, dan notabene, cocok untuk snorkeling.
Kami pun diajak menyusuri jalan perkampungan untuk mencari spot ideal tersebut oleh Amet dan Dori, nama kedua pemuda tersebut. Sembari berjalan, kami diceritakan sedikit mengenai sejarah pulau tersebut. Pulau Mansinam adalah titik penting di sejarah penyebaran agama nasrani di tanah Papua. Pada tanggal 5 Februari 1988, di pulau ini dua misionaris dari Jerman pertama kali menjejakkan kaki mereka di tanah Papua. Peristiwa ini diperingati dengan dibangunnya monumen salib besar dan setiap tanggal 5 Februari, umat Nasrani berduyun-duyun mendatangi pulau ini untuk mengikuti kebaktian, sehingga memadatkan pulau yang tenteram ini.
Ya, kehidupan di pulau ini memang terasa tenteram dan sederhana. Jalanan dari semen membelah kampung, sisi kanan-kirinya dihiasi perdu liar berbunga putih yang sedang bermekaran. Kami mengucapkan permisi kepada beberapa warga yang sedang bercengkerama di bawah teduhnya pepohonan. Cukup jauh kami berjalan, hingga akhir jalan semen di kampung itu. Kami berbelok turun ke kiri melewati perkebunan kelapa dan tibalah kami tiba di pantai berbatu yang katanya ideal untuk snorkeling dan molo-molo.
Apa sih itu molo-molo? Itu adalah teknik tradisional yang digunakan warga setempat untuk menangkap ikan. Peralatannya cukup sederhana. Sebatang panjang besi tembaga, sepertinya bekas jari roda sepeda, yang satu ujungnya diberi tekukan dan satu ujungnya yang lain diruncingkan. Jalinan tebal karet gelang diikat ke sepotong kayu, dan ujung yang satunya dikaitkan ke tekukan di batang besi tadi. Dengan bertumpu pada potongan kayu, ujung tempat kita mengaitkan karet gelang kita tarik ke atas. Sambil menyelam di tengah laut, mereka mencari ikan untuk dijadikan sasaran. Begitu ada yang pas dijadikan sasaran, dilepaslah ujung karet bagian atas, dan JLEB, ujung besi yang runcing menancap ke tubuh ikan. Cara kerjanya seperti ketapel atau panah ternyata!
Oom Onis menunggu di tepi pantai sementara Mas Fahmi ikut Amet dan Dori molo-molo di tengah. Saya cukup puas snorkeling ria tak jauh dari pantai. Memang tak seindah sewaktu snorkeling di Lombok, tapi saya sempat melihat ikan-ikan kecil yang berwarna indah. Bahkan ada yang biru neon! Jarak pandang cukup bagus di dalam air dan airnya pun hangat! Sempurna sekali.
Tak terasa hari beranjak sore. Para lelakipun selesai molo-molo dan mereka berhasil menangkap beberapa ekor ikan. Mulai ikan kakap merah, ikan piso hingga ikan kakaktua! Katanya lezat sekali digoreng! Kami pun bercengkerama di pinggir pantai sambil mengeringkan badan. Lagi-lagi kami kedatangan tamu! Segerombol anak-anak kampung pulau bergabung dengan kami. Dengan lincahnya mereka meniti pohon yang tumbang ke tengah laut, dan bergantian lompat dari atasnya. Plung gejebur! Lalu naik lagi ke pohon, dan loncat lagi. Riuh rendah tawa mereka terdengar. Namanya juga tumbuh di tepi pantai, sudah akrab sekali mereka dengan laut. Seru!
Sudah tiba waktunya kami kembali ke pelabuhan untuk menunggu jemputan. Kali ini kami menyusuri jalan tepat di pesisir, jalurnya yang disemen meliuk rapi dinaungi pohon-pohon kelapa. Dori sempat memanjat pohon pinang, dan dengan lahap dia memakan biji pinang selama perjalanan pulang. Kami pun berpose sebentar di gua Jepang, yang sebenarnya adalah kolong lubang yang digali di batu karang. Di zaman perang Pasifik, tentara Jepang akan bersembunyi di gua ini memata-matai kapal sekutu yang lewat untuk lalu diserang.
Kami tiba di pelabuhan berbarengan dengan kapal yang menjemput. Surya merunduk rendah di balik awan, dan dengan puitis menyemburatkan cahaya keemasan di atas permukaan laut. Pemandangan sore hari yang indah inilah yang menemani kami pulang ke kota Manokwari. Hari kami sudahi di awal untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Besok petualangan kami akan berlanjut di kota lain di Papua, yaitu kota Sorong!
No comments:
Post a Comment